Di satu sisi, meja perundingan masih disebut sebagai jalan keluar. Di sisi lain, tank dan pasukan Israel disiapkan untuk kemungkinan kembali masuk lebih jauh ke Gaza.
Bahasa diplomasi berbicara tentang kesepakatan. Bahasa militer berbicara tentang operasi darat baru. Di antara keduanya, warga Gaza kembali harus menunggu dengan kecemasan yang sudah terlalu mereka kenal.
Surat kabar Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan pada Rabu, 16 September, bahwa militer Israel tengah mempersiapkan kemungkinan melancarkan operasi darat baru di Jalur Gaza. Laporan itu menyebut Komando Selatan memperkuat posisi di sepanjang “Garis Kuning” dan tetap menjalankan serangan terarah dengan alasan Hamas disebut sedang membangun kembali kekuatannya.
Israel, menurut laporan tersebut, kini menguasai wilayah Gaza yang lebih luas. Namun memperluas dan mempertahankan kendali itu juga menghadirkan persoalan militer yang tidak sederhana.
Maka ancaman operasi baru kembali muncul. Alasannya tetap sama: senjata Hamas.
Pelucutan atau Penaklukan?
Menurut pejabat Israel yang dikutip Yedioth Ahronoth, jika Hamas tidak menyerahkan senjatanya secara sukarela dalam kerangka kesepakatan yang didukung Amerika Serikat, militer Israel dapat diperintahkan untuk memaksanya.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz bahkan menyatakan bahwa Hamas tidak akan secara sukarela melucuti senjata atau menghancurkan seluruh terowongannya.
Lalu ia menyebut kemungkinan lain: militer akan diperintahkan untuk “melenyapkan Hamas” agar rencana emigrasi dapat dilaksanakan.
Di sinilah satu kata menjadi penting: Emigrasi.
Dalam bahasa biasa, emigrasi terdengar seperti keputusan seseorang untuk meninggalkan sebuah negara.
Namun ketika kata itu muncul dalam konteks perang, pendudukan, operasi militer, dan kehancuran sebuah wilayah, pertanyaannya menjadi jauh lebih berat:
Pergi karena memilih pergi—atau pergi karena tidak lagi memiliki tempat untuk tinggal?
Perbedaan keduanya bukan permainan bahasa. Ia menyangkut rumah. Tanah. Keluarga. Juga hak seseorang untuk tetap hidup di tempat ia dilahirkan. Di Gaza.
Garis Kuning, Garis Kehidupan
“Garis Kuning” mungkin terdengar seperti istilah teknis di peta militer. Bagi warga Gaza, garis di peta selalu memiliki arti yang lebih konkret. Ia menentukan sampai di mana seseorang boleh bergerak. Di mana sebuah keluarga boleh tinggal. Jalan mana yang masih dapat dilalui. Rumah mana yang masih bisa didatangi. Dan wilayah mana yang sewaktu-waktu dapat berubah menjadi medan operasi.
Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa Komando Selatan Israel terus memperkuat posisi di sepanjang garis tersebut sembari mempertahankan serangan terarah dan menghancurkan fasilitas yang disebut sebagai “gudang senjata” Hamas.
Dari sudut pandang militer Israel, tindakan itu diposisikan sebagai tekanan terhadap Hamas agar menerima kesepakatan yang mencakup pelucutan senjata.
Namun tekanan militer selalu mempunyai dua sasaran. Sasaran pertama adalah kelompok bersenjata. Sasaran kedua—disadari atau tidak—adalah ruang hidup tempat kelompok itu berada.
Di Gaza, keduanya nyaris mustahil dipisahkan tanpa risiko besar terhadap penduduk sipil.
Negosiasi dengan Bising Ledakan
Ada ironi lain yang lebih sulit diabaikan. Militer Israel, menurut laporan tersebut, mempertahankan tingkat serangan yang tinggi sebagai bagian dari tekanan agar Hamas menyetujui kesepakatan. Artinya, tekanan militer dipakai untuk mendorong sebuah kesepakatan politik.
Ini bukan fenomena baru dalam sejarah perang. Tetapi bagi warga sipil, teori strategi semacam itu memiliki bentuk yang sangat sederhana.
Ledakan.
Debu.
Rumah yang rusak.
Keluarga yang berpindah.
Lalu perundingan.
Di ruang diplomasi, istilahnya mungkin pressure. Di jalan-jalan Gaza, tekanan itu mempunyai berat berton-ton.
Kadang berupa beton yang runtuh.
Kadang berupa tubuh yang harus diangkat dari reruntuhan.
Kadang berupa anak yang bertanya kepada orang tuanya apakah mereka masih boleh tinggal di rumah sendiri.
Hamas, Senjata, dan Pertanyaan yang Lebih Besar
Hamas memang menjadi pusat persoalan dalam tuntutan Israel agar senjata kelompok tersebut dilucuti. Rezim Israel menyatakan pelucutan Hamas merupakan bagian penting dari pengaturan keamanan dan masa depan Gaza.
Namun perdebatan mengenai Hamas tidak dengan sendirinya menjawab persoalan mengenai masa depan penduduk Gaza.
Sebuah kelompok bersenjata dapat menjadi objek negosiasi. Sebuah persenjataan dapat menjadi objek pelucutan. Terowongan dapat dihancurkan. Tetapi penduduk sipil bukan bagian dari persenjataan. Mereka adalah manusia yang mempunyai hak atas keselamatan dan tempat tinggal.
Karena itu, setiap pembicaraan mengenai “masa depan Gaza” tidak cukup hanya berbicara tentang siapa yang memegang senjata. Ia juga harus menjawab pertanyaan yang lebih mendasar:
Siapa yang masih boleh tinggal di sana?
Jika Perdamaian Dimulai dengan Pengusiran
Pernyataan Katz mengenai “rencana emigrasi” membuat pertanyaan itu semakin mendesak. Sebab perdamaian yang dibangun melalui pengosongan penduduk dari wilayahnya membawa persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar terminologi.
Dalam hukum internasional, pemindahan paksa penduduk sipil merupakan persoalan serius. Apakah suatu tindakan memenuhi unsur pelanggaran hukum tertentu bergantung pada fakta, konteks, dan penyelidikan yang memadai. Karena itu, istilah hukum tidak semestinya digunakan secara serampangan.
Namun satu hal tidak membutuhkan istilah hukum yang rumit untuk dipahami. Orang yang kehilangan rumah karena perang tidak serta-merta kehilangan hak untuk memiliki rumah.
Gaza sudah terlalu lama menjadi tempat di mana masa depan selalu dibicarakan dalam bentuk peta. Garis. Zona. Koridor. Wilayah kendali. Daerah operasi.
Sementara manusia yang tinggal di dalam garis-garis itu sering kali hanya muncul sebagai angka korban.
Sebuah Operasi yang Belum Dimulai
Belum ada operasi darat baru yang dimulai hanya karena sebuah surat kabar melaporkan persiapannya. Itu perlu dibedakan.
Yang ada saat ini adalah laporan mengenai persiapan, penguatan posisi, serangan terarah yang terus berlangsung, dan pernyataan pejabat Israel mengenai kemungkinan operasi paksa apabila tuntutan pelucutan senjata tidak dipenuhi.
Tetapi justru di situlah kegelisahannya.
Perang besar sering kali tidak dimulai ketika dunia pertama kali mendengar ledakan.
Ia dimulai lebih dahulu di ruang perencanaan. Di peta. Di perintah mobilisasi. Di penumpukan pasukan. Di kalimat-kalimat pejabat yang perlahan mengubah kemungkinan menjadi ancaman.
Gaza sudah mengenal semua tahap itu. Mereka tahu suara kendaraan lapis baja. Mereka tahu suara pesawat. Mereka tahu bagaimana sebuah kawasan yang pagi harinya masih disebut “wilayah sipil” dapat berubah menjadi zona berbahaya sebelum malam. Karena itu, setiap persiapan operasi baru bukan sekadar berita militer bagi mereka. Ia adalah pertanyaan tentang apakah malam berikutnya akan kembali menjadi malam yang panjang. Dan apakah setelah semua ini, masih ada rumah yang bisa disebut rumah.
Sebab sebuah kesepakatan yang dirundingkan sambil menyiapkan serangan mungkin tetap disebut proses perdamaian. Namun bagi orang-orang yang tinggal di bawah garis tembak, perdamaian seharusnya tidak perlu diterjemahkan dari bahasa ledakan. [SHR]