Gencatan senjata belum tentu berarti rumah aman. Di Beit Lahia, Gaza utara, sebuah rumah justru menjadi tempat terakhir bagi empat anggota satu keluarga. Mereka tewas dalam serangan udara Israel pada Kamis, ketika kesepakatan gencatan senjata masih berlaku.
Di media sosial kabar itu beredar:


Sumber medis Palestina mengatakan kepada Anadolu bahwa serangan menghantam rumah keluarga Ahmed di kawasan Beit Lahia Project. Keempat jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza.
Beberapa orang lainnya terluka. Sebagian korban juga masih dilaporkan tertimbun di bawah reruntuhan.
Empat orang. Satu keluarga. Satu rumah. Dalam berita perang, semuanya bisa selesai dalam satu kalimat. Namun bagi sebuah keluarga, satu kalimat itu mungkin berarti empat kursi kosong sekaligus.
Gencatan Senjata dengan Tembakan
Serangan di Beit Lahia bukan satu-satunya insiden. Pada Kamis pagi, sejumlah korban luka dilaporkan dibawa ke Rumah Sakit Al-Shifa setelah kendaraan militer dan drone Israel menembaki tempat penampungan serta tenda-tenda pengungsi di kamp Jabalia, menurut laporan WAFA.
Pesawat tempur Israel juga dilaporkan melancarkan serangan udara di dekat Rumah Sakit Kamal Adwan.
Di tempat lain, kapal-kapal Angkatan Laut Israel dilaporkan melepaskan tembakan gencar ke perairan lepas pantai Khan Younis dan wilayah sebelah timur Gaza tengah.
Lokasinya berbeda. Korban dan kerusakannya mungkin berbeda. Namun semuanya terjadi dalam satu suasana yang sama: gencatan senjata.
Pihak Palestina menyebut serangan-serangan tersebut sebagai pelanggaran terbaru terhadap kesepakatan yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Kata “gencatan senjata” terdengar seperti janji sederhana: berhenti menembak. Namun di Gaza, rupanya kata itu masih membutuhkan banyak catatan kaki.
Angka Korban yang Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan rumah sakit menerima satu jenazah dan 30 korban luka akibat serangan Israel dalam 24 jam terakhir.
Belum jelas apakah jenazah yang disebut Kementerian itu termasuk dalam empat korban dari keluarga Ahmed di Beit Lahia.
Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, Kementerian menyebut sedikitnya 1.359 warga Palestina telah tewas dan 4.571 lainnya terluka. Sebanyak 831 jenazah disebut telah ditemukan dalam periode tersebut.
Angka itu terus bertambah.
Namun angka memiliki kebiasaan buruk: ia membuat tragedi tampak seperti laporan keuangan.
1.359.
4.571.
Padahal di balik setiap angka ada seseorang yang pernah memiliki nama, keluarga, pekerjaan, kebiasaan, dan tempat tidur.
Empat korban di Beit Lahia mengingatkan kembali bahwa angka korban perang bukanlah angka yang berdiri sendiri. Ia adalah kumpulan kehilangan.
Reruntuhan yang Belum Usai
Secara keseluruhan, Kementerian Kesehatan Gaza menyebut jumlah korban tewas sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.670 orang, dengan 174.682 orang terluka.
Kementerian juga mengatakan sejumlah korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan-jalan karena ambulans serta tim pertahanan sipil tidak dapat menjangkau mereka.
Dengan demikian, angka korban bahkan belum selesai dihitung.
Sebagian orang mungkin masih berada di bawah beton.
Sebagian keluarga mungkin masih menunggu kabar.
Sebagian jenazah mungkin belum ditemukan.
Perang, dengan segala teknologi dan senjata modernnya, pada akhirnya meninggalkan pekerjaan paling tua bagi manusia: mencari orang yang hilang.
Di antara puing-puing Gaza, keluarga bukan hanya kehilangan rumah.
Mereka kehilangan kepastian.
Tidak tahu apakah seseorang masih hidup.
Tidak tahu di mana tubuhnya berada.
Tidak tahu kapan ia bisa dibawa pulang.
Dan kadang-kadang, seperti keluarga Ahmed, mereka kehilangan empat orang sekaligus.
Damai yang Belum Sampai ke Rumah
Gencatan senjata semestinya membuat rumah kembali menjadi rumah.
Tempat anak-anak tidur.
Tempat keluarga berkumpul.
Tempat seseorang bisa menutup pintu dan berharap dunia di luar berhenti mengganggu.
Namun ketika serangan masih menghantam rumah, tenda pengungsi, dan wilayah di sekitar rumah sakit, batas antara perang dan damai menjadi semakin kabur.
Di atas kertas mungkin ada tanggal dimulainya gencatan senjata.
Di lapangan, warga Gaza masih harus mendengar suara drone.
Masih melihat kendaraan militer.
Masih mencari perlindungan.
Masih membawa korban ke rumah sakit.
Mungkin karena itu, bagi warga Gaza, ukuran sebuah gencatan senjata sebenarnya tidak rumit.
Bukan berapa banyak dokumen yang disepakati.
Bukan berapa banyak pejabat yang berbicara.
Bukan berapa panjang pernyataan diplomatik yang dikeluarkan.
Ukuran paling sederhananya adalah apakah sebuah keluarga bisa tidur bersama malam ini dan bangun dengan jumlah anggota keluarga yang sama.
Di Beit Lahia, empat orang tidak mendapatkan kesempatan itu.
Satu rumah. Empat jenazah… dan sebuah gencatan senjata yang, setidaknya bagi mereka, tak lagi bermakna apa-apa. [SHR]