Amuk Buldoser Zionis Israel di Atas Makam

Di Gaza, bahkan orang yang telah mati belum tentu mendapatkan tempat untuk beristirahat.

Buldoser masih bergerak.

Di antara beton yang remuk, baja yang bengkok, dan debu bangunan yang telah menjadi lanskap sehari-hari, alat-alat berat Israel terus meratakan sejumlah wilayah yang berada dalam pengerahan militernya. Di bawah semua itu, menurut Kepala HAM PBB Volker Türk, masih mungkin terdapat jenazah manusia.

Mereka tidak sedang bersembunyi.

Mereka hanya belum ditemukan.

Dalam pernyataan tertulis pada Selasa, Türk mengatakan sebagian besar wilayah Gaza telah hancur akibat pengeboman Israel maupun penghancuran menggunakan alat berat dan bahan peledak. Ia menyatakan sejumlah area yang kini berada dalam kendali militer Israel masih diratakan dengan buldoser, tanpa penghormatan yang semestinya terhadap jenazah yang kemungkinan tertimbun di bawah reruntuhan.

Di tengah proses itu, sebuah keluarga ditemukan dalam keadaan telah meninggal.

Satu keluarga utuh.

Türk khawatir temuan tersebut bukan akhir dari daftar, melainkan hanya “puncak gunung es”.

Kalimat itu mungkin terdengar seperti bahasa birokrasi PBB.

Di Gaza, maknanya jauh lebih sederhana: masih banyak keluarga yang mungkin belum tahu di mana keluarganya dikuburkan.

Kuburan yang Belum Selesai

Sekitar 8.000 jenazah warga Palestina diperkirakan masih berada di bawah reruntuhan di Jalur Gaza.

Angka itu sendiri sudah sulit dibayangkan. Sebab setiap angka menyembunyikan nama. Setiap nama mempunyai keluarga. Setiap keluarga mempunyai seseorang yang mungkin masih menunggu.

Antara November 2025 dan September 2026, otoritas pertahanan sipil Gaza melaporkan telah menemukan lebih dari 630 jenazah dan sisa-sisa jasad manusia.

Lebih dari enam ratus kematian yang baru ditemukan setelah perang mengubah tempat tinggal mereka menjadi kuburan.

Sebagian mungkin ditemukan oleh petugas.

Sebagian lain ditemukan ketika bangunan dibongkar.

Sebagian mungkin hanya tinggal fragmen tulang.

Maka pekerjaan yang disebut “evakuasi jenazah” sesungguhnya jauh lebih rumit daripada memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain.

Ada identifikasi.

Ada pemeriksaan forensik.

Ada sampel biologis.

Ada pencatatan lokasi.

Ada upaya mencari keluarga.

Ada kebutuhan untuk mengetahui bagaimana seseorang meninggal.

Türk meminta semua informasi tersebut didokumentasikan dan dilestarikan.

Sebab jenazah bukan sekadar sisa perang.

Ia adalah bukti kejahatan keji Israel.

Ketika Puing Menyimpan Kesaksian

Inilah bagian yang sering hilang ketika kehancuran hanya dihitung dalam meter persegi.

Sebuah bangunan yang runtuh bukan hanya bangunan.

Ia mungkin menyimpan tubuh manusia. Ia mungkin menyimpan serpihan senjata. Ia mungkin menyimpan pola kerusakan. Ia mungkin menyimpan petunjuk tentang apa yang terjadi pada orang-orang yang berada di dalamnya ketika serangan datang.

Karena itu, Türk menyerukan akses bagi penyelidik internasional ke seluruh wilayah Gaza untuk membantu mengumpulkan dan menjaga bukti terkait dugaan pelanggaran hukum internasional.

Permintaannya terdengar teknis.

Namun implikasinya sangat manusiawi.

Jika sebuah bangunan diratakan sebelum diperiksa, sebagian informasi tentang apa yang terjadi di sana bisa ikut hilang.

Jika jenazah dipindahkan tanpa dokumentasi yang memadai, identitas seseorang bisa hilang bersama tubuhnya.

Jika sisa-sisa biologis tidak disimpan, keluarga mungkin kehilangan kesempatan untuk mengetahui bahwa fragmen kecil yang ditemukan di antara puing itu adalah bagian dari orang yang selama bertahun-tahun mereka cari.

Perang sudah mengambil rumah mereka.

Jangan sampai proses membersihkan reruntuhan ikut mengambil kesempatan untuk mengetahui kebenaran tentang kematian mereka.

Hukum Internasional dan Orang yang Hilang

Türk kembali mengingatkan kewajiban Israel menurut hukum internasional untuk mencari orang hilang dan memberikan informasi mengenai keberadaan mereka, sekaligus mengevakuasi jenazah.

Namun ada satu hal yang juga penting: menguburkan seseorang secara layak tidak berarti pertanyaan tentang kematiannya selesai.

Jenazah harus dipulangkan.

Tetapi penyebab kematiannya juga harus diketahui.

Sebab sebuah makam dapat memberikan ketenangan kepada keluarga, sementara penyelidikan memberikan sesuatu yang berbeda: jawaban.

Apakah seseorang tewas di medan pertempuran?

Apakah sebuah rumah terkena serangan yang sah menurut hukum perang?

Apakah serangan dilakukan tanpa membedakan warga sipil dan kombatan?

Apakah kekuatan yang digunakan proporsional terhadap tujuan militernya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dapat dijawab hanya dengan melihat jumlah mayat.

Diperlukan penyelidikan.

Diperlukan bukti.

Dan diperlukan akses.

Rumah yang Menjadi Makam

Türk juga menyoroti laporan mengenai banyak anggota keluarga—anak-anak, perempuan, dan penyandang disabilitas—yang tewas dalam serangan terhadap bangunan tempat tinggal.

Menurutnya, laporan tersebut menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kepatuhan terhadap aturan hukum internasional yang mengatur pelaksanaan operasi militer.

Ia menyerukan penyelidikan efektif dan pertanggungjawaban terhadap mereka yang terbukti bertanggung jawab.

Di titik ini, angka kembali kehilangan daya jelaskannya.

Sebab “sebuah keluarga” jauh lebih mudah dibayangkan daripada “ribuan korban”.

Ada meja makan.

Ada kamar anak.

Ada pakaian yang belum sempat dilipat.

Ada seseorang yang mungkin sedang tidur ketika ledakan datang.

Lalu rumah itu runtuh.

Setelah itu, keluarga yang masih hidup mencari.

Mencari nama.

Mencari tubuh.

Mencari kabar.

Mencari tempat untuk berduka.

Dan terkadang mereka bahkan tidak menemukan jenazah untuk dikuburkan.

Buldoser Tidak Bisa Mengubur Kebenaran

Gaza mungkin memang membutuhkan pembersihan reruntuhan.

Gaza juga membutuhkan rumah, rumah sakit, sekolah, jalan, air, listrik, dan kehidupan yang kembali berjalan.

Namun rekonstruksi tidak boleh menjadi alasan untuk menghapus jejak masa lalu.

Sebuah kota yang dibangun kembali tanpa dokumentasi tentang kehancurannya mungkin tampak lebih bersih. Tetapi kebersihan tidak sama dengan keadilan.

Türk meminta negara-negara meningkatkan kerja sama dan koordinasi agar evakuasi jenazah dilakukan secara bermartabat dan manusiawi di seluruh Gaza.

Seruan itu seharusnya tidak dibaca hanya sebagai prosedur kemanusiaan.

Ia adalah pengingat bahwa hukum internasional bahkan mengenal kewajiban terhadap mereka yang sudah tidak dapat lagi bersuara.

Di Gaza, mereka yang masih hidup membutuhkan perlindungan.

Mereka yang hilang membutuhkan pencarian.

Mereka yang mati membutuhkan pemakaman.

Dan mereka yang bertanggung jawab atas kematian itu—jika terbukti melalui penyelidikan yang sah—membutuhkan pertanggungjawaban.

Buldoser boleh meratakan beton.

Ia boleh memindahkan baja.

Ia boleh membersihkan jalan.

Namun ada sesuatu yang tidak seharusnya ikut diratakan bersama puing-puing itu:

kebenaran tentang siapa yang mati, bagaimana mereka mati, dan mengapa mereka belum juga ditemukan.

Sebab bagi keluarga yang menunggu, jenazah bukan sekadar tubuh yang ingin dipulangkan.

Ia adalah bukti bahwa seseorang yang mereka cintai pernah ada.

Dan bahwa kematiannya tidak boleh dibuat seolah-olah tidak pernah terjadi.

Namun faktanya: saat ini Gaza sedang dan terus dibersihkan oleh buldoser Zionis Israel, tanpa peduli bahwa yang mungkin ikut tersapu adalah jejak kematian orang-orang yang bahkan belum sempat ditemukan. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *