Drone Zionis Lukai Sembilan Warga Gaza di Tenda

Tenda pengungsian semestinya menjadi tempat paling sederhana untuk berlindung.

Di Al-Mawasi, Khan Younis, bahkan tempat itu kembali tidak cukup aman.

Sembilan warga Palestina terluka pada Sabtu setelah drone Israel menyerang kerumunan warga sipil di dekat tenda-tenda pengungsian di kawasan tersebut. Sumber medis menyebut serangan itu sebagai pelanggaran baru terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih berlangsung, sebagaimana dilaporkan Anadolu.

Sejumlah tenda rusak akibat serangan tersebut, menurut saksi mata.

Sembilan orang dibawa dari tempat yang seharusnya menjadi perlindungan.

Mereka mungkin datang ke tenda karena kehilangan rumah.

Kini tempat berlindung itu pun ikut menjadi sasaran aksi brutal Zionis Israel.

Ketika Tenda Tak Lagi Memadai

Al-Mawasi telah lama menjadi salah satu kawasan tempat warga Gaza mencari perlindungan setelah terusir dari tempat tinggal mereka.

Tenda menjadi rumah sementara.

Terpal menjadi atap.

Tanah menjadi lantai.

Harta benda yang tersisa disimpan dalam beberapa tas.

Bagi mereka yang hidup dalam pengungsian, tidak banyak yang tersisa untuk dilindungi. Karena itu, ketika serangan menghantam kawasan tenda, yang rusak bukan hanya lembaran kain dan tiang-tiang sederhana.

Rasa aman yang bahkan sejak awal sudah sangat tipis kembali runtuh.

Saksi mata mengatakan sejumlah tenda rusak akibat serangan drone tersebut.

Tidak ada bunker.

Tidak ada dinding beton.

Tidak ada ruang bawah tanah.

Hanya tenda dan orang-orang yang berusaha bertahan hidup di dalamnya.

Gencatan Senjata dengan Jejak Artileri

Serangan drone di Khan Younis bukan satu-satunya aktivitas militer yang dilaporkan terjadi pada hari itu.

Israel juga melancarkan serangan artileri di sebelah timur kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah, di wilayah timur Kota Gaza, serta di dekat kamp pengungsi Jabalia di utara.

Belum ada laporan mengenai korban dari serangan-serangan tersebut.

Di laut, kapal-kapal Angkatan Laut Israel juga dilaporkan melepaskan tembakan ke arah kapal-kapal nelayan Palestina di lepas pantai Kota Gaza.

Utara ditembaki.

Tengah dihantam artileri.

Selatan diserang drone.

Laut pun tidak luput.

Sementara itu, istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan di Gaza tetap sama: gencatan senjata.

Bagi orang yang membaca dari jauh, dua kata itu mungkin terdengar seperti keadaan tanpa perang. Namun bagi warga yang berada di bawah drone dan artileri, definisinya mungkin terasa berbeda.

Angka yang Sudah Terlalu Besar

Sejak perang dimulai pada 8 Oktober 2023, lebih dari 73.800 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 174.700 lainnya terluka, menurut data yang dikutip dari otoritas kesehatan Gaza.

Sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut juga disebut telah rusak atau hancur.

Angka-angka itu begitu besar hingga hampir kehilangan kemampuan untuk mengejutkan.

73.800.

174.700.

90 persen.

Namun sembilan korban di Al-Mawasi mengembalikan angka itu kepada ukuran manusia.

Sembilan orang bukan statistik.

Mereka adalah sembilan tubuh yang terluka.

Sembilan keluarga yang menerima kabar.

Sembilan kehidupan yang kembali harus berurusan dengan akibat sebuah serangan.

Dan mungkin ada satu ironi yang paling menyakitkan dari semua itu.

Mereka berada di dekat tenda karena telah kehilangan rumah.

Tenda itu seharusnya menjadi tempat mereka bersembunyi dari perang.

Namun perang ternyata tidak terlalu peduli apakah tempat perlindungan itu terbuat dari beton atau selembar terpal.

Di Gaza, bahkan tenda pun harus belajar bahwa kata “aman” tidak selalu berarti selamat. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *