Hidup dalam Bayang-bayang Ketakutan Tertindih Reruntuhan

Di Kota Gaza, bahaya tidak selalu datang dari langit, seperti ketika serangan udara Israel tak henti mengancam. Ia bisa menunggu di atas kepala—berupa beton retak, dinding miring, dan bangunan yang tinggal menunggu waktu untuk jatuh.

Keluarga-keluarga Palestina yang mengungsi di sekitar Menara Shawa Husari hidup dalam ketakutan itu. Mereka mendirikan tenda di antara bangunan yang rusak akibat serangan Israel, tanpa tempat aman untuk berpindah. Warga dari kawasan yang berada di sekitar “Garis Kuning” mengatakan mereka terjebak di antara reruntuhan dan ketiadaan pilihan.

Jumat lalu, lima anak Palestina terluka ketika sebagian bangunan yang rusak akibat pemboman Israel runtuh di kawasan Sabra, selatan Kota Gaza. Tiga hari sebelumnya, tragedi serupa menewaskan 21 orang, termasuk 12 anak, setelah bangunan Al-Saada di kawasan Al-Sinaa ambruk.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 61 orang telah tewas akibat runtuhnya bangunan yang rusak selama perang.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, puluhan bangunan dilaporkan ambruk menimpa warga yang tidak memiliki tempat berlindung lain. Kelangkaan tenda memperparah keadaan. Rumah prefabrikasi dan karavan yang semestinya dapat menjadi tempat tinggal sementara juga disebut terhambat masuk ke Gaza akibat terus dihalang-halangi oleh Rezim Zionis.

Lembaga Palestina, organisasi internasional, dan PBB berulang kali meminta agar material tempat penampungan diizinkan masuk. Bukan hanya untuk menyelamatkan warga dari bangunan yang sewaktu-waktu roboh, melainkan juga dari tenda yang kebanjiran dan hawa dingin musim dingin. Seruan itu, menurut laporan Anadolu, belum mendapat tanggapan Israel.

Sejak 8 Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 174.000 terluka. Sekitar 90% infrastruktur Gaza juga telah hancur.

Di Gaza, perang rupanya tak selalu berakhir ketika bom berhenti jatuh. Kadang ia menetap di dalam retakan dinding—diam, menunggu, lalu runtuh bersama mereka yang tak punya tempat lain untuk berlindung. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *