Hebron Dikunci, Warga Diusir dari Rumah

Pengepungan Hebron memasuki hari kedua. Pasukan Israel dilaporkan mengusir warga dari rumah, menggeledah permukiman, dan menutup akses kota. Di wilayah Tepi Barat lainnya, 19 warga Palestina ditangkap dalam serangkaian penggerebekan.

Dini hari di Hebron, pintu-pintu rumah dibuka bukan untuk menyambut tamu, melainkan karena perintah tentara. Puluhan warga Palestina dilaporkan dipaksa meninggalkan rumah dan berdiri di luar, sementara pasukan Israel menggelar pengepungan yang memasuki hari kedua hingga Sabtu.

Menurut kantor berita resmi Palestina, Wafa, pasukan Israel menggerebek kawasan al-Jilda dan Deir Bahha di pusat Hebron, Tepi Barat bagian selatan yang diduduki. Wilayah itu dikepung, akses utama ditutup, dan jalan-jalan menuju kota diblokade.

Kendaraan militer tambahan dan buldoser dikerahkan dalam operasi tersebut. Hebron pun terisolasi dari kawasan sekitarnya, sementara tentara menggeledah rumah-rumah dan melakukan interogasi di lapangan.

Wafa melaporkan bahwa sejumlah warga ditahan selama operasi itu sebelum akhirnya dibebaskan pada Sabtu pagi. Namun, berakhirnya interogasi tidak serta-merta menghapus pengalaman warga yang harus meninggalkan rumah pada dini hari, berdiri di luar, dan menunggu tentara menyelesaikan pemeriksaan.

Penangkapan Meluas ke Tepi Barat

Di luar Hebron, pasukan Israel menangkap 19 warga Palestina dalam serangkaian penggerebekan di berbagai wilayah Tepi Barat.

Menurut laporan media Palestina, dua orang ditangkap di kawasan Hindaza dan kamp pengungsi al-Azza di Bethlehem. Sebanyak 16 orang lainnya ditangkap di kegubernuran Nablus, sedangkan seorang pemuda ditangkap di kamp pengungsi Aqabat Jabr, Jericho.

Operasi di Hebron sendiri berlangsung setelah tentara Israel mengumumkan penutupan total kota dan sejumlah kawasan sekitarnya pada Jumat. Pengumuman itu menyusul klaim militer Israel bahwa dua warga Palestina tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel.

Militer Israel menuduh kedua warga Palestina tersebut menembaki pemukim Israel di Hebron hingga menyebabkan lima orang terluka. Klaim itu disampaikan oleh pihak militer Israel.

Kehidupan di Balik Blokade

Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, mengalami peningkatan operasi militer Israel dan kekerasan oleh pemukim. Laporan-laporan dari wilayah tersebut mencakup pembunuhan dan penangkapan warga Palestina, penghancuran rumah, pembakaran kendaraan dan masjid, serta perataan lahan pertanian.

Pembatasan akses ke lahan, pengusiran komunitas Palestina, dan perluasan permukiman Israel juga terus menjadi bagian dari persoalan yang membayangi kehidupan warga di wilayah pendudukan.

Pengepungan sebuah kota tidak hanya terlihat dari kendaraan militer yang memenuhi jalan atau pos pemeriksaan yang menutup jalur keluar-masuk. Dampaknya menjalar ke kehidupan sehari-hari: perjalanan terhenti, aktivitas warga terganggu, dan rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung dapat berubah menjadi lokasi pemeriksaan.

Di Hebron, warga menghadapi situasi itu ketika tentara mengepung kawasan tempat tinggal mereka. Di kota-kota lain, penggerebekan berujung pada penangkapan.

Operasi militer Israel disebut sebagai respons terhadap insiden penembakan di Hebron. Namun, bagi penduduk yang rumahnya digeledah atau akses kotanya ditutup, konsekuensi operasi itu hadir dalam bentuk yang langsung mereka rasakan.

Pengepungan mungkin dapat diumumkan berakhir. Jalan-jalan mungkin kembali dibuka. Namun, bagi warga yang dipaksa berdiri di luar rumah pada dini hari, rasa aman tidak selalu pulih bersamaan dengan dibukanya pintu dan gerbang kota.

Sebab sebuah rumah bukan hanya bangunan yang bisa digeledah. Ia adalah tempat seseorang berharap dapat tidur tanpa harus menunggu perintah untuk keluar. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *