Bahkan Klinik Pun Tak Aman dari Serangan Israel

Di Gaza, bahkan tempat orang datang untuk diselamatkan pun tak lagi memiliki jaminan keselamatan.

Tembakan di sekitar sebuah pos medis di Abu Madeen, Gaza tengah, melukai parah seorang perempuan dan anaknya, Kamis pagi. Peluru juga mengenai klinik yang dikelola Culture and Free Thought Association (CFTA), merusak tangki air di atapnya dan memaksa sekitar 40 pasien serta seluruh tenaga medis mengungsi.

Pos medis yang didukung Medical Aid for Palestinians (MAP) itu melayani sekitar 250 pengungsi setiap hari. Insiden tersebut menjadi fasilitas kesehatan kedua yang didukung MAP yang terpaksa dievakuasi akibat tembakan Israel dalam waktu kurang dari sepekan.

Beberapa hari sebelumnya, seorang pasien berusia 65 tahun tewas setelah ditembak quadcopter militer Israel di pos medis MAP di Jabalia, Gaza utara.

“Suara tembakan tidak berhenti,” kata Mohammed Al Hour, petugas kesehatan masyarakat MAP yang berada di sekitar lokasi. Ia mengatakan sebuah peluru jatuh hanya sekitar satu meter dari tempatnya berdiri.

Di balik suara senjata, kata Al Hour, ada wajah lain dari kehancuran Gaza: penyakit kulit, kekurangan air, serbuan tikus, dan ketergantungan pada dapur umum.

Ia menuturkan kisah dua bersaudara—perempuan berusia delapan tahun dan adiknya yang berumur lima tahun—yang datang mencari pengobatan impetigo. Kedua orang tua mereka telah tewas dalam perang. Sang kakak membawa adiknya berobat, sementara mereka kini tinggal bersama nenek yang sudah lanjut usia.

Fikr Shalltoot, Direktur MAP untuk Gaza, mengatakan layanan kesehatan di Gaza masih menghadapi serangan, evakuasi, kekurangan obat dan peralatan medis meski gencatan senjata telah berlangsung hampir setahun. MAP menyebut sistem kesehatan Gaza belum mengalami pemulihan berarti setelah bertahun-tahun perang.

Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara juga sebelumnya menghentikan operasional dan mengevakuasi staf ketika kendaraan militer Israel mendekati fasilitas tersebut. Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan pasokan bahan bakar ke lebih dari 20 rumah sakit dan pusat kesehatan terancam dihentikan akibat kekurangan dana.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, pelanggaran terhadap gencatan senjata sejak Oktober 2025 telah menewaskan 1.386 warga Palestina dan melukai 4.784 lainnya. Sejak Oktober 2023, hampir 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas.

Di Gaza, perang tampaknya tak hanya mengejar mereka yang memegang senjata. Ia juga datang ke klinik, ruang-ruang tempat orang sakit mencari napas. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *