Israel Larang Pasien dan Korban Luka Berobat ke Luar Gaza

Israel menghalangi pasien dan korban luka asal Jalur Gaza untuk bepergian ke luar negeri guna mendapatkan perawatan medis pada hari Senin—hari kedua berturut-turut—akibat hari raya Yahudi, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

“Selama dua hari berturut-turut, tidak ada pasien atau korban luka yang dievakuasi melalui perlintasan Rafah dan Kerem Shalom karena hari raya yang diperingati oleh pihak pendudukan,” ungkap kementerian tersebut dalam sebuah pernyataan singkat.

Menurut Yoram Halevi, koordinator kegiatan pemerintah Israel di wilayah Palestina, perlintasan Rafah dan Kerem Shalom di Gaza selatan ditutup pada hari Minggu dan Senin akibat hari raya Yahudi.

Penutupan ini terjadi setelah Israel pada hari Kamis mengurangi jumlah pasien, korban luka, dan pendamping mereka yang dijadwalkan meninggalkan Gaza untuk berobat di Mesir—dari 136 menjadi 61 warga Palestina—menurut pernyataan kementerian sebelumnya.

Kementerian tersebut menyebut langkah itu sebagai “pelanggaran nyata terhadap hak untuk mendapatkan perawatan,” seraya memperingatkan bahwa tindakan itu membahayakan nyawa ratusan pasien karena menghalangi mereka menjangkau rumah sakit khusus tepat waktu.

Pihaknya mendesak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kepala urusan kemanusiaan PBB, dan organisasi internasional lainnya untuk “segera melakukan intervensi dan memberikan tekanan langsung” kepada otoritas Israel guna mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai “kondisi sewenang-wenang”.

Pada akhir Agustus, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa ribuan pasien di Gaza masih menunggu evakuasi medis untuk perawatan mendesak.

Sekitar 13.237 pasien, termasuk 6.276 anak-anak, serta 16.406 pendamping, telah dievakuasi dari Gaza sejak Oktober 2023, ujarnya.

Menurut pernyataan Kementerian Kesehatan sebelumnya, terdapat 20.719 pasien dan korban luka yang masih berada dalam daftar tunggu untuk meninggalkan Gaza guna mendapatkan perawatan.

Pada 2 Februari, Israel membuka kembali sebagian perlintasan Rafah—yang telah dikuasainya sejak Mei 2024—dengan pembatasan ketat untuk mengizinkan keberangkatan terbatas bagi pasien, korban luka, dan pendamping mereka, serta kepulangan warga Palestina dari luar negeri.

Beberapa bulan kemudian, Israel juga mulai mengizinkan pasien dan korban luka untuk keluar melalui perlintasan komersial Kerem Shalom. Warga Palestina yang kembali ke Gaza melaporkan adanya perlakuan buruk oleh pihak Israel—termasuk penahanan dan interogasi yang berlangsung lama—sebelum mereka diizinkan melanjutkan perjalanan.

Penutupan akses ini terjadi di tengah kondisi sektor kesehatan Gaza yang terus menderita akibat dampak perang Israel; menurut data resmi, sebanyak 445 serangan telah menyasar fasilitas kesehatan dan menyebabkan kerusakan pada 155 fasilitas di antaranya.

Sejak 8 Oktober 2023, Israel telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 174.000 lainnya dalam genosida di Gaza, sembari menghancurkan sekitar 90% infrastruktur sipil di wilayah kantong tersebut. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *