Ujian Bersejarah bagi Rezim Arab yang Defisit Empati
Rezim Arab kini menghadapi ujian bersejarah menyusul seruan terbaru Pemimpin Perlawanan Houthi Yaman, Sayyid Abdul-Malik al-Houthi agar mereka membuka jalur darat bagi warga Yaman untuk mencapai Palestina.
Ketika Sayyid Abdul-Malik berkata: “Buka perbatasan kalian dan kami akan menyeberang dengan seratus ribu orang,” sangat jelas bahwa ia tidak sedang meminta dukungan militer.
Kenapa? Tentu saja karena dia tahu bahwa rakyat Yaman siap mempersembahkan darah murni mereka di atas arena pengabdian dan pengorbanan… terutama untuk mematahkan pengepungan Israel atas Gaza dengan kesiapan bertarung langsung secara terbuka, memberi pelajaran kepada musuh Zionis, dan mengungkapkan kelemahan rezim penjajah yang sebenarnya kepada dunia.
Lewat Sayyid Abdul-Malik, Yaman sekaligus juga ingin mengirimkan pesan kepada semua: “Jika dunia telah meninggalkan Gaza, maka kami belum… dan bahkan tidak akan pernah meninggalkannya.”
Jadi, ini bukan sekadar seruan untuk membuka perbatasan… melainkan seruan untuk membuka mata sejarah.
Senada dengan Sayyid Abdul-Malik, kita juga ingin menyeru para penguasa Arab dan Muslim: “Duhai para pemimpin Arab… Kepatuhan dan ketundukan kalian terhadap rezim Pendudukan Israel, telah memperpanjang penderitaan rakyat Palestina. Percayalah bahwa tekanan moral untuk membuka perbatasan dan mengizinkan masuknya bantuan, tidak akan menjadi akhir dunia. Ingatlah bahwa secara historis: negara-negara Arab pernah melawan ketidakadilan, tanpa berbuah bencana setelahnya, dan perjanjian damai pun tidak akan runtuh karena sikap kemanusiaan. Jadilah kuat, jangan terlampau takut kehilangan takhta kalian dan kesenangan duniawi lainnya, karena di atas semua itu: keadilan punya cara melindungi dirinya sendiri…” [SHR]