Lima warga Palestina, termasuk tiga anggota keluarga yang sama, tewas dan lima lainnya luka-luka dalam serangan Israel terbaru di Jalur Gaza pada hari Minggu di tengah pelanggaran harian terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung, kata sumber medis.
Salah satu warga Palestina tewas akibat tembakan Israel di pusat kamp pengungsi Jabalia di Gaza utara dan jenazahnya dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Shifa di Gaza barat, kata sumber tersebut kepada Anadolu.
Sepasang suami istri dan anak mereka juga tewas, dan tiga lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel yang menargetkan rumah mereka di kamp pengungsi Nuseirat di Gaza tengah, tambah sumber tersebut.
Dalam insiden terpisah, sumber tersebut mengatakan seorang anak meninggal karena luka-luka yang diderita dalam serangan Israel yang menargetkan markas polisi di Gaza barat laut pada hari Sabtu.
Di Gaza utara, seorang nelayan Palestina mengalami luka sedang setelah pasukan Angkatan Laut Israel menembakkan peluru dan tembakan senapan mesin ke kapal-kapal nelayan di lepas pantai Kota Gaza, menurut sumber tersebut.
Seorang warga Palestina lainnya terluka akibat pecahan peluru dari tembakan artileri pasukan Israel di pantai di daerah Al-Sudaniya, barat laut wilayah kantong tersebut.
Dalam perkembangan terkait, tentara Israel melakukan operasi penghancuran yang menargetkan bangunan dan fasilitas di Gaza utara. Sumber-sumber lokal melaporkan mendengar ledakan besar akibat penghancuran tersebut.
Di Khan Younis di Gaza selatan, pasukan Israel juga melakukan operasi penghancuran serupa di sebelah timur kota, disertai tembakan dan penembakan artileri di dekat bundaran Bani Suheila, menurut sumber-sumber lokal.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 880 orang telah tewas dan lebih dari 2.645 lainnya terluka dalam serangan Israel sejak gencatan senjata diumumkan pada 10 Oktober 2025.
Perjanjian tersebut dimaksudkan untuk menghentikan perang Israel selama dua tahun yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, melukai lebih dari 172.000 orang sejak Oktober 2023, dan menyebabkan kerusakan besar yang memengaruhi 90% infrastruktur sipil. [SHR]