Bayangkan sejenak: menjelang Hari Raya Idul Adha, ketika kaum Muslimin di Indonesia mulai sibuk memilih hewan kurban terbaik, dan ketika hari bahagia itu tiba, mereka mulai memasak beragam menu spesial berupa aneka olahan daging untuk keluarga, dan seterusnya. Namun nun jauh di sana, di sudut bumi yang nyaris dilupakan dunia, ada jutaan anak-anak Yaman yang bertanya kepada ibunya, “Bu, apakah di Hari Raya Kurban tahun ini kita bisa makan daging seperti dulu lagi?” Sementara sang ibu hanya bisa menunduk, memeluk anaknya erat—karena tak ada jawaban pasti selain air mata.
Itulah sekilas potret Yaman hari ini. Negeri yang pernah dikenal dengan sebutan “Arabia Felix” atau ‘Arab yang Bahagia’ kini berubah menjadi salah satu tempat paling menyedihkan di dunia. Sejak 2015, Yaman dilanda perang berkepanjangan, diwarnai serangan demi serangan udara, hingga berdampak pada krisis kemanusiaan yang tak kunjung berakhir. Agresi dari koalisi agresor yang dipimpin oleh Saudi dan Amerika telah menghancurkan banyak infrastruktur penting: bandara, rumah sakit, sekolah, dan bahkan pasar tradisional. Namun yang paling menyayat hati adalah bagaimana perang ini merenggut kehidupan jutaan warga sipil yang tak berdosa—terutama anak-anak.
Menurut data PBB, lebih dari 20 juta rakyat Yaman—hampir 70% dari total penduduk—membutuhkan bantuan kemanusiaan. Dari jumlah itu, 11 juta di antaranya adalah anak-anak.
Di tengah situasi genting ini, momen Idul Adha yang seharusnya menjadi hari kebahagiaan, sangat mungkin justru menjadi hari paling sunyi di Yaman. Tak ada aroma daging kurban. Tak ada senyum anak-anak menggenggam kantong berisi potongan daging dari hasil pembagian hewan kurban. Tak ada pesta kecil di rumah-rumah sederhana. Yang ada hanyalah harap dan doa, agar ada sejumput empati dari saudara-saudara seiman di luar sana yang masih peduli.
Kita Bisa Menjadi Jawaban dari Doa-Doa Itu! (bersambung… ke bagian 2) [SHR]