Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengancam bahwa pemboman Gaza akan terus berlanjut meskipun lebih dari selusin warga Palestina tewas pada hari Selasa hingga Rabu pagi, menghancurkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh.
Netanyahu mengatakan serangan udara, yang telah menewaskan lebih dari 400 warga Palestina sejak dimulai pada pukul 2 pagi pada hari Selasa, adalah “baru permulaan” dan berdalih bahwa pelanggaran gencatan senjata “diputuskan setelah Hamas menolak semua usulan, dan karena itu, sejak saat itu, negosiasi akan dilakukan di bawah tembakan”.
Setidaknya 14 warga Palestina tewas semalam dalam pemboman Israel yang menargetkan Khan Younis, Nusierat, Rafah, dan daerah lain di daerah kantong itu.
Israel telah menyerang daerah-daerah baru di Gaza pada hari Rabu, dengan jet-jet menjatuhkan selebaran di bagian utara, memerintahkan orang-orang untuk mengungsi.
Hamas telah menyatakan bahwa mereka berkomitmen pada kesepakatan gencatan senjata, dan mendorong agar fase kedua gencatan senjata segera dilaksanakan. Namun seperti biasa, Israel mencari-cari alasan agar fase pertama diperpanjang, yang menyebabkan kebuntuan dalam negosiasi.
Juru bicara Hamas, Abdul Latif al-Qanou mengatakan bahwa pihaknya masih berkomitmen untuk melihat ketentuan lengkap gencatan senjata dilaksanakan, tetapi “kepentingan pribadi Netanyahu dan pelariannya dari krisisnya [persidangan korupsi] telah merusak kesepakatan tersebut”.
Berbicara kepada media berbahasa Arab milik The New Arab, Al-Araby Al-Jadeed, Al-Qanou mengatakan bahwa para mediator menyadari komitmen Hamas terhadap ketentuan kesepakatan meskipun tindakan Netanyahu kerap menyimpang.
Mesir juga mengajukan proposal baru untuk gencatan senjata pada hari Selasa, yang bertujuan untuk “menjembatani” perbedaan dan menawarkan jalan tengah terkait tuntutan Hamas, yang menyerukan pembebasan seorang tentara Amerika-Israel dari tahanan dan jenazah lima tawanan lainnya, dengan langkah menuju fase kedua kesepakatan, Al-Araby Al-Jadeed melaporkan.
Namun, pejabat Hamas lainnya, Taher al-Nunu, menegaskan bahwa Hamas tidak menutup pintu untuk negosiasi dan tidak perlu ada perjanjian baru, mengingat gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya sudah berlaku.
“Hamas menyerukan kepada para mediator dan masyarakat internasional untuk memaksa rezim Pendudukan menghentikan agresi, melaksanakan perjanjian gencatan senjata, dan memulai fase kedua gencatan senjata yang dimulai pada bulan Januari,” lanjutnya.
Sementara itu, kemarahan meningkat di Israel terhadap Netanyahu, dengan pemimpin oposisi Yair Lapid menyerukan unjuk rasa menentangnya, setelah menyalahkan Netanyahu yang dinilainya “tidak memiliki batasan”.
“Saya menyerukan kepada kalian semua, ini adalah momen kita, ini adalah masa depan kita, ini adalah negara kita. Turun ke jalan”, tulis Lapid dalam sebuah unggahan di X.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengutuk eskalasi baru-baru ini, menyebut serangan itu sebagai “tingkat penderitaan yang tidak dapat ditoleransi bagi rakyat Palestina”.
Badan Kemanusiaan PBB, OCHA, mengatakan bahwa sistem perawatan kesehatan Gaza berada di ambang kehancuran karena pemboman yang terus berlangsung.
Ini terjadi hanya satu minggu setelah pejabat kesehatan di Gaza membunyikan peringatan atas kurangnya pasokan obat-obatan dan oksigen di rumah sakit, yang membahayakan nyawa pasien. [SHR]