Tak Ada Lagi Tempat Rayakan Natal di Gaza

Dampak buruk pendudukan Israel terhadap komunitas Kristen di Gaza adalah kisah tragis tentang kehilangan, pengkhianatan, dan penderitaan yang berkelanjutan. Lebih dari seribu orang Kristen tidak akan merayakan Natal tahun ini.

Umat ​​​​Kristen di Gaza, tidak hanya kehilangan tempat ibadahnya tetapi juga menanggung penderitaan karena kehilangan orang-orang tercinta dalam pembunuhan massal yang menghebohkan dunia.

Natal yang Diselimuti Kesedihan: Absennya Kemeriahan dalam Realitas Sedih di Gaza

Dalam waktu kurang dari tiga bulan, lebih dari 20.000 nyawa melayang di Gaza akibat tindakan pendudukan. Situasi ini bukanlah hal baru, dan mereka yang mengikuti peristiwa tersebut dengan cermat menyadari kenyataan suram yang ada. Namun, yang menambah penderitaan adalah tindakan beberapa pendeta yang, berlawanan dengan jalan yang ditetapkan oleh tokoh-tokoh seperti Pastor Manuel Musallam, malah berinteraksi dengan pemimpin negara pendudukan seolah-olah kekejaman terhadap gereja dan rekan senegaranya tidak pernah terjadi.

Tindakan pengkhianatan ini sangat mengerikan mengingat waktu dan konteksnya. Bagaimana para pendeta ini menghadapi jemaatnya ketika mereka berjabat tangan dengan pelaku kekerasan terhadap komunitasnya sendiri, pengrusak gerejanya, dan penyerang Tanah Airnya?

Gaza, yang berada dalam cengkeraman pendudukan, menghadapi pemusnahan, hukuman kolektif, dan pembersihan etnis. Bunyi lonceng gereja yang dulunya meriah kini menjadi sunyi, dan tradisi menyalakan pohon Natal yang dijunjung tinggi, termasuk di Asosiasi Pemuda Kristen, telah padam. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *