Kamus Damai ala Israel: Berunding Sambil Membom Gaza

Ada cara baru untuk memahami diplomasi di Palestina: perundingan berjalan di meja, perang tetap berlangsung di langit Gaza.

Hamas disebut mempertimbangkan mundur dari kesepahaman mengenai Gaza yang tengah dibahas bersama para mediator. Pemicu yang dilaporkan sederhana: serangan udara belum juga berhenti. Israel terus membombardir Gaza.

Kabar itu dilaporkan media Israel, Channel 14. Hamas belum memberikan penjelasan terbuka mengenai laporan tersebut.

Jika kabar itu benar, proses menuju kesepakatan kembali berhadapan dengan persoalan yang sudah berulang: bagaimana membangun kepercayaan di tengah dentum ledakan?

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Barangkali justru karena itu ia sulit dijawab.

Sebab dalam diplomasi, kata-kata mempunyai tempat yang terhormat. Ada roadmap, ada kesepahaman, ada mekanisme keamanan, ada rekonstruksi, ada masa depan Gaza.

Di lapangan, warga Gaza mengenal istilah yang lebih sederhana.

Rumah. Rumah sakit. Puing. Dan deru pesawat.

Dua bahasa yang berbeda

Para mediator sedang berusaha menjaga agar pembicaraan tentang masa depan Gaza tidak kembali ambruk. Kesepahaman yang dibahas diharapkan menjadi jembatan menuju tahap berikutnya setelah penghentian permusuhan.

Namun jembatan diplomasi itu berdiri di atas tanah yang terus diguncang.

Hamas, menurut laporan tersebut, mempertimbangkan menarik diri jika serangan Israel terus berlangsung. Ancaman itu berpotensi membuka kembali kebuntuan yang selama ini coba ditutup melalui meja perundingan.

Di pihak Israel, persoalannya tidak lebih sederhana.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu harus menghadapi tekanan politik dari kelompok sayap kanan dalam rezimnya. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Pemukiman Orit Strook termasuk tokoh yang mendesak Netanyahu berhati-hati terhadap roadmap mengenai masa depan Gaza yang dicanangkan Dewan Perdamaian.

Netanyahu, dengan demikian, harus memainkan dua peran sekaligus; Menjadi pihak yang berunding. Sekaligus menjadi pemimpin rezim yang harus mempertahankan dukungan politik di dalam negeri.

Diplomasi membutuhkan kompromi. Politik membutuhkan ketegasan.

Perang, tentu saja, membutuhkan musuh.

Gaza kemudian menjadi tempat ketiganya bertemu.

Ketika Bom menjadi Alat Tawar

Dalam teori diplomasi, tekanan militer bisa digunakan untuk memperkuat posisi tawar.

Masalahnya, tekanan memiliki konsekuensi.

Ia tidak berhenti pada peta operasi militer atau laporan keberhasilan serangan. Tekanan jatuh kepada manusia yang kebetulan tinggal di wilayah yang sedang diperebutkan.

Karena itu, bagi warga Gaza, perdebatan mengenai apakah sebuah serangan merupakan bagian dari strategi, respons keamanan, atau tekanan negosiasi mungkin tidak banyak mengubah apa pun.

Ledakan tetaplah ledakan.

Kehilangan tetaplah kehilangan.

Dan malam yang tidak tenang tetaplah malam yang tidak tenang.

Di sinilah bahasa diplomasi mulai terdengar ganjil.

Para pejabat berbicara mengenai “masa depan Gaza”. Para mediator membahas “tahapan berikutnya”. Para politisi memperdebatkan roadmap.

Sementara warga Gaza mungkin hanya sedang menghitung berapa banyak anggota keluarga yang masih berada di dalam rumah.

Jarak antara dua bahasa itu begitu lebar.

Satu berbicara tentang masa depan.

Satu lagi berusaha bertahan sampai pagi.

Perdamaian yang Belum Sempat Lahir

Ancaman Hamas untuk mundur, jika benar terjadi, menunjukkan betapa rapuhnya proses yang sedang dibangun.

Sebuah kesepakatan membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan membutuhkan jeda dari kekerasan. Jeda membutuhkan kemauan politik.

Namun faktanya, rantai itu mudah diputus. Cukup satu serangan. Satu keputusan. Satu rudal. Kemudian para mediator kembali bekerja, menyusun kalimat baru untuk menjelaskan mengapa perundingan belum berhasil.

Begitulah diplomasi Gaza sering bergerak: satu langkah ke depan, lalu suara ledakan mengembalikannya beberapa langkah ke belakang.

Ironinya, semua pihak tetap berbicara tentang perdamaian.

Israel berbicara tentang keamanan.

Hamas berbicara tentang penghentian serangan dan masa depan Gaza.

Mediator berbicara tentang kesepakatan.

Masing-masing memiliki bahasa sendiri.

Hanya warga Gaza yang tidak membutuhkan kamus untuk memahami apa yang sedang terjadi.

Mereka mendengar deru pesawat.

Mereka melihat asap.

Mereka berjalan di antara reruntuhan.

Dan mereka menunggu.

Barangkali itulah ukuran paling jujur bagi sebuah gencatan senjata: bukan berapa banyak dokumen yang ditandatangani, melainkan berapa banyak malam yang bisa dilalui tanpa bising ledakan.

Sebab perdamaian yang membutuhkan bom untuk mempertahankan posisi tawar mungkin memang memiliki banyak nama dalam dokumen diplomatik. Namun bagi orang yang berada di bawahnya, ia tetap terdengar seperti perang.

Di Gaza, rupanya perdamaian tidak selalu datang setelah bom berhenti. Kadang-kadang bom justru ikut menemani orang-orang yang terus berunding tentang perdamaian. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *