Dokter Hossam Abu Safiya adalah tenaga medis yang selama perang bekerja menyelamatkan orang sakit dan terluka. Kini, ia sendiri berada dalam kondisi kesehatan yang serius di balik jeruji penjara Israel.
Direktur Rumah Sakit Kamal Adwan itu dilaporkan mengalami penurunan kondisi kesehatan setelah mengalami kekerasan fisik berulang selama masa penahanannya. Kantor Informasi Tahanan Palestina menyebut Abu Safiya menghadapi kondisi kesehatan dan kemanusiaan yang sangat sulit di Penjara Rakevet, Israel.
Menurut lembaga tersebut, kekerasan yang dialaminya antara lain menyebabkan patah tulang rusuk.
Abu Safiya ditahan setelah bertahun-tahun bekerja di salah satu rumah sakit utama di Gaza. Di tengah perang, ia tetap berada di rumah sakit ketika banyak orang memilih menyelamatkan diri. Ia menjadi salah satu wajah tenaga medis Gaza yang bekerja dalam kondisi serba terbatas.
Di penjara, profesinya sebagai dokter rupanya tidak membuat tubuhnya lebih terlindungi.
“Hari Terberat”
Kantor Informasi Tahanan Palestina menyebut 27 Juli sebagai hari paling brutal sejak penangkapan Abu Safiya.
Hari itu, menurut pernyataan tersebut, terjadi penggerebekan penjara yang disebut sebagai “hari terberat dalam masa penahanannya”.
Para tahanan dilaporkan dipukuli menggunakan tongkat, diserang dengan anjing polisi, terkena gas air mata dan peluru karet, serta mengalami penyiksaan menggunakan kejutan listrik.
Kesaksian mengenai peristiwa tersebut berasal dari Kantor Informasi Tahanan Palestina. Tuduhan itu belum dapat diverifikasi secara independen.
Namun kondisi Abu Safiya sendiri disebut telah memburuk.
Ia dilaporkan mengalami sejumlah masalah kesehatan: penyakit jantung kronis, tekanan darah tinggi, nyeri leher berat, pergeseran cakram tulang belakang, hernia, gangguan penglihatan, pusing terus-menerus, serta detak jantung yang cepat.
Riwayat cedera juga bertambah setelah ia dipindahkan ke Penjara Rakevet pada Juni. Kantor tersebut menyatakan Abu Safiya mengalami kekerasan fisik berat yang menyebabkan patah tulang rusuk.
Ia kemudian disebut menjalani isolasi selama 21 hari dalam kondisi yang keras.
Untuk berbagai persoalan kesehatan itu, pihak pengelola penjara dilaporkan hanya memberikan obat pereda nyeri dan obat tekanan darah.
Seorang dokter dengan berbagai keluhan medis serius akhirnya diperlakukan seolah tubuhnya hanya membutuhkan dua jenis obat.
Dari Ruang Operasi ke Sel Tahanan
Ironinya hampir terlalu jelas untuk ditulis.
Abu Safiya sebelumnya berada di ruang rumah sakit, berhadapan dengan pasien yang membutuhkan pertolongan. Ia mengenakan pakaian medis, memeriksa kondisi pasien, dan bekerja di tengah keterbatasan obat serta fasilitas.
Kini ia sendiri menjadi pasien tanpa rumah sakit.
Ia memiliki pengetahuan medis untuk memahami apa yang terjadi pada tubuhnya. Ia tahu arti patah tulang rusuk. Ia tahu risiko penyakit jantung. Ia tahu apa yang dapat terjadi ketika tekanan darah tinggi tidak ditangani dengan baik.
Namun pengetahuan itu tidak memberinya kuasa untuk menentukan pengobatannya sendiri.
Ia hanya tahanan.
Di titik itulah profesi, status, dan kemanusiaan bertemu dengan tembok penjara.
Kantor Informasi Tahanan Palestina menegaskan bahwa otoritas Israel memikul tanggung jawab penuh atas keselamatan Abu Safiya. Lembaga itu menyerukan intervensi internasional segera untuk mengupayakan pembebasannya dan mengakhiri apa yang disebutnya sebagai pelanggaran terhadap tahanan Palestina.
Seruan semacam itu sudah berulang kali terdengar dalam berbagai kasus tahanan Palestina.
Yang sering terlambat datang adalah pertolongan.
Tubuh yang Menunggu Dunia
Kasus Abu Safiya memperlihatkan ironi lain dari perang Gaza.
Di luar penjara, dunia berbicara tentang perlindungan tenaga medis, hukum humaniter, dan akses terhadap layanan kesehatan.
Di dalam penjara, seorang dokter yang selama perang merawat pasien justru dilaporkan menghadapi kemerosotan kesehatan, cedera, isolasi, dan keterbatasan pengobatan.
Ia tidak lagi berhadapan dengan pasien.
Ia berhadapan dengan jeruji.
Tidak ada ruang operasi. Tidak ada bangsal. Tidak ada tim medis yang bebas menentukan tindakan. Hanya tubuh yang terus menanggung akibat dari penahanan dan kekerasan yang dituduhkan.
Pada akhirnya, persoalan Abu Safiya bukan hanya mengenai seorang dokter Gaza.
Ia adalah pertanyaan sederhana tentang bagaimana dunia memperlakukan seseorang yang sedang sakit ketika orang itu berada di balik jeruji.
Sebab seorang dokter seharusnya terbiasa memegang denyut nadi pasien.
Kali ini, mungkin dunia yang harus memegang denyut nadinya.
Sebelum terlambat. [SHR]