Pukul 02.30 dini hari, ketika sebagian besar penghuni Surif terlelap, suara keributan datang dari pinggiran kota. Sejumlah pemukim ilegal Israel bergerak dari arah permukiman Etzion. Sebuah kendaraan milik warga Palestina dibakar. Kendaraan lain dicoba dibakar. Sebuah rumah diserang dan nyaris ikut menjadi bara.
Malam itu, warga tidak sedang menghadapi perang terbuka. Mereka sedang berusaha mempertahankan rumah.
Ali Ghneimat, warga Surif, mengatakan kepada Anadolu bahwa para pemukim menyerang kawasan pinggiran kota yang berada di utara Hebron, Tepi Barat yang diduduki.
Upaya membakar rumah itu gagal setelah warga berdatangan dan berkumpul di halaman. Tidak ada laporan mengenai korban jiwa dalam serangan tersebut. Namun ketakutan kembali menjadi penghuni tetap rumah-rumah di Surif.
Perempuan dan anak-anak, kata Ghneimat, paling panik menghadapi serangan itu.
Bagi warga setempat, kejadian tersebut bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Serangan pemukim Zionis telah berulang. Rasa aman perlahan berubah menjadi kemewahan.
Rumah yang Harus Dijaga Sepanjang Malam
Ghneimat mengatakan kecemasan membuat kehidupan warga ikut berubah.
Para lelaki terpaksa meninggalkan pekerjaan atau membatalkan kegiatan sosial. Mereka memilih tetap berada di sekitar rumah untuk berjaga-jaga jika serangan kembali terjadi.
Ada harga yang tidak tercatat dalam statistik: pekerjaan yang ditinggalkan, pertemuan keluarga yang dibatalkan, anak-anak yang terbangun karena suara gaduh, dan malam yang dilewati sambil menunggu sesuatu yang buruk.
Sebuah rumah, dalam keadaan normal, adalah tempat orang menutup pintu dan tidur.
Di Surif, pintu justru menjadi sesuatu yang harus dijaga.
Serangan pemukim itu memperlihatkan pola yang lebih luas di Tepi Barat. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA mencatat lebih dari 1.330 serangan pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki sejak awal 2026. Serangan-serangan tersebut menyebabkan korban jiwa atau kerusakan terhadap properti warga Palestina.
Angka itu terdengar seperti statistik birokratis.
Bagi warga yang kendaraannya dibakar, statistik itu punya bentuk: kaca pecah, bodi kendaraan menghitam, dan rumah yang nyaris terbakar.
Permukiman dan Kekerasan
Menurut data pihak Palestina, sekitar 750.000 pemukim Israel kini tinggal di 156 permukiman dan 360 pos terdepan di Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur.
Permukiman-permukiman tersebut menjadi salah satu persoalan paling sensitif dalam konflik Israel-Palestina. Bagi Palestina, perluasan permukiman berarti penyusutan ruang hidup dan ancaman terhadap keberlangsungan komunitas mereka. Bagi Israel, sebagian besar kawasan tersebut dipandang dalam kerangka kepentingan keamanan, sejarah, dan klaim atas wilayah.
Di antara perdebatan tentang peta, status tanah, dan batas negara, kehidupan sehari-hari berlangsung dengan ukuran yang lebih sederhana.
Sebuah mobil.
Sebuah rumah.
Sebuah keluarga.
Dan rasa takut.
Surif berada di dekat wilayah permukiman Etzion. Pada dini hari itu, warga melihat kembali bagaimana kedekatan geografis dengan permukiman dapat berubah menjadi sumber kecemasan.
Mereka tidak menunggu sebuah pasukan datang dengan tank.
Cukup sekelompok orang, beberapa kendaraan, bahan bakar, dan keberanian untuk menyerang rumah orang lain.
Ketika Ketakutan Menjadi Rutinitas
Yang paling mengkhawatirkan dari kekerasan semacam ini bukan hanya kerusakan yang ditimbulkannya. Ada sesuatu yang lebih sunyi: normalisasi ketakutan.
Ketika seorang ayah harus meninggalkan pekerjaan agar bisa menjaga rumah, kekerasan telah mengubah ekonomi keluarga.
Ketika warga membatalkan acara sosial karena takut rumah mereka diserang, kekerasan telah mengubah kehidupan sosial.
Ketika perempuan dan anak-anak tidur dalam kecemasan, kekerasan telah masuk ke ruang paling pribadi.
Rumah tidak lagi cukup menjadi rumah. Ia berubah menjadi pos penjagaan.
OCHA mencatat ribuan insiden kekerasan pemukim di Tepi Barat dalam beberapa tahun terakhir. Data tersebut memberi gambaran tentang skala persoalan. Namun angka tetap memiliki keterbatasan: ia tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya mendengar suara orang datang pada pukul 02.30, lalu melihat kendaraan terbakar di luar rumah.
Di Surif, warga berhasil menggagalkan upaya membakar sebuah rumah.
Mereka mungkin menyelamatkan bangunan itu malam tersebut.
Persoalan yang lebih besar belum selesai.
Sebab selama serangan terus berulang, warga tidak hanya kehilangan rasa aman. Mereka perlahan kehilangan hak paling sederhana untuk menjalani kehidupan tanpa harus berjaga dari kemungkinan rumah mereka dibakar.
Di Tepi Barat, rupanya ada malam ketika seseorang tidur bukan karena merasa aman.
Ia tidur karena belum ada serangan yang datang. [SHR]