Israel Dirikan Pos Permukiman Ilegal Baru di Hebron Tepi Barat

Pejabat Palestina mengatakan pada hari Rabu bahwa pasukan pendudukan Israel mulai membangun pos permukiman ilegal baru di sebuah desa di wilayah Masafer Yatta, Provinsi Hebron, Tepi Barat bagian selatan yang diduduki, di bawah perlindungan tentara.

Khalil Hathaleen, kepala dewan desa Umm al-Khair, mengatakan kepada Anadolu bahwa pasukan pendudukan telah “mulai membangun lingkungan pemukiman baru di tengah desa dengan memasang karavan, mendirikan pagar, dan mengaspal jalan”.

Hathaleen menjelaskan bahwa pos pemukiman baru tersebut membagi Umm al-Khair menjadi dua bagian dan memblokir jalan yang digunakan oleh pelajar dan penduduk.

Ia mengatakan Umm al-Khair “telah menjadi sasaran aksi yang sengit dan berkelanjutan oleh pasukan pendudukan”, menambahkan bahwa pembangunan lingkungan pemukiman telah dipercepat sejak tengah malam dengan tujuan “memperketat tekanan pada penduduk dan menggusur mereka.”

“Tujuannya adalah untuk mengusir orang-orang, tetapi kami tetap tinggal di sini,” katanya.

Aktivis Ahmad Hathaleen mengatakan para penjajah mulai menempatkan karavan di tengah-tengah komunitas Palestina pada malam hari.

Ia menambahkan bahwa pos terdepan baru tersebut “merebut puluhan atau bahkan ratusan dunam tanah Umm al-Khair”, meskipun penduduk telah memperoleh putusan dari pengadilan Israel beberapa bulan lalu yang menyatakan pos tersebut ilegal.

Ia mengatakan pendirian pos terdepan tersebut membagi Umm al-Khair menjadi bagian utara dan selatan “untuk memberikan tekanan lebih lanjut kepada warga Palestina sebagai persiapan untuk pengusiran mereka”.

Ia mencatat bahwa penduduk Umm al-Khair menghadapi serangan hampir setiap hari oleh para penjajah, termasuk pembongkaran, pemberitahuan peringatan, dan pemutusan pasokan air dan listrik.

Wilayah di seluruh Masafer Yatta telah mengalami peningkatan serangan penjajah dan pendirian pos-pos permukiman ilegal di tengah peringatan Palestina tentang upaya untuk mengusir komunitas Badui dan petani.

Serangan-serangan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekerasan penjajah di Tepi Barat. Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok Palestina mendokumentasikan sekitar 1.637 serangan penjajah pada bulan April.

Kekerasan tersebut bertepatan dengan peningkatan eskalasi militer Israel yang berkelanjutan di wilayah pendudukan sejak perang Gaza, termasuk pembunuhan, penangkapan, dan penggerebekan di kota-kota yang melibatkan penggeledahan rumah dan perusakan harta benda. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *