Ketika Operasional RS Kamal Adwan Terancam Berhenti Total

Rumah sakit seharusnya menjadi tempat orang datang untuk diselamatkan. Namun di Gaza, rumah sakit justru harus mengungsi.

Rumah Sakit Kamal Adwan di Gaza utara untuk sementara menghentikan operasional dan mengevakuasi stafnya pada Kamis. Pihak administrasi rumah sakit mengatakan keputusan itu diambil setelah kendaraan militer Israel bergerak mendekati fasilitas tersebut.

Operasional dihentikan selama satu hari, dengan alasan melindungi staf medis, pasien, dan pengunjung.

Menurut Quds News Network, staf rumah sakit diperintahkan meninggalkan lokasi ketika kendaraan militer Israel semakin dekat. Terdengar pula laporan mengenai tembakan di sekitar fasilitas tersebut.

Rumah sakit yang semestinya menjadi tempat terakhir yang ditinggalkan dalam sebuah perang justru menjadi tempat yang harus ditinggalkan lebih dulu.

Di Gaza, rupanya bahkan bangunan yang seharusnya dilindungi tidak selalu cukup jauh dari perang.

Ketika Rumah Sakit Kehilangan Rasa Aman

Kamal Adwan bukan sekadar bangunan dengan ruang perawatan. Ia adalah tempat orang sakit datang ketika pilihan lain hampir tidak ada.

Karena itu, ketika staf medis harus mengevakuasi diri akibat pergerakan kendaraan militer di sekitar rumah sakit, yang berhenti bukan hanya aktivitas pelayanan kesehatan. Ada rasa aman yang ikut dihentikan.

Pihak rumah sakit mengatakan keputusan tersebut diambil untuk melindungi tenaga medis, pasien, dan pengunjung. Artinya, untuk sementara, keselamatan manusia justru membutuhkan mereka menjauh dari tempat yang dibangun untuk menyelamatkan manusia.

Ironinya sederhana. Rumah sakit harus ditutup agar orang-orang di dalamnya tetap selamat.

Di wilayah lain di Gaza utara, situasinya lebih buruk. Dua warga Palestina dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel yang merangsek ke Beit Lahia. Salah satunya seorang remaja berusia 13 tahun.

Sumber medis Palestina mengidentifikasi korban sebagai Hisham Hani Subh dan Aed Mohammed Salama, 13 tahun. Keduanya disebut terkena tembakan Israel di dekat Sekolah Khalifa ketika kendaraan militer bergerak di sekitar Masjid Al-Ribat.

Beberapa orang lainnya dilaporkan terluka. Seorang anak berusia 13 tahun kembali masuk ke dalam daftar korban.

Angka itu mungkin kelak hanya menjadi satu baris dalam laporan konflik.

Bagi keluarganya, tentu tidak.

Gencatan Senjata yang Masih Ditembaki

Pihak Palestina menyebut rangkaian insiden tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sedang berlaku di Gaza.

Di selatan, kendaraan militer Israel dilaporkan melepaskan tembakan di dekat sebuah pemakaman di sebelah barat Khan Younis.

Tembakan itu disebut mengenai tenda-tenda yang menjadi tempat berlindung warga Palestina yang mengungsi.

Helikopter Israel juga dilaporkan beroperasi dan melepaskan tembakan di sebelah timur kota tersebut.

Di Gaza tengah, artileri Israel dilaporkan menghantam wilayah barat laut kamp pengungsi Al-Bureij. Tembakan dari kendaraan militer juga dilaporkan terjadi di sebelah timur kawasan Al-Da’wa, di timur laut kamp Al-Nuseirat.

Lokasinya berbeda. Utara. Selatan. Tengah. Namun ceritanya hampir sama: kendaraan militer bergerak, tembakan terdengar, warga sipil mencari perlindungan.

Dan di atas semuanya ada satu istilah yang terdengar semakin sulit diterjemahkan ke dalam kenyataan: gencatan senjata.

Jeda yang Tidak Pernah Benar-benar Sunyi

Gencatan senjata biasanya dibayangkan sebagai keadaan ketika senjata berhenti berbicara. Di Gaza, setidaknya dari laporan mengenai sejumlah insiden ini, jeda itu tampaknya memiliki banyak pengecualian.

Rumah sakit menghentikan pelayanan karena kendaraan militer mendekat. Staf medis mengungsi dari tempat kerja. Tenda pengungsi terkena tembakan. Seorang anak berusia 13 tahun tewas. Artileri masih terdengar. Helikopter masih beroperasi.

Jika semua itu terjadi ketika gencatan senjata sedang berlangsung, pertanyaan yang muncul bukan lagi apakah perang sudah selesai. Pertanyaannya jauh lebih sederhana: Sebenarnya apa yang sedang dihentikan?

Sebab bagi warga Gaza, gencatan senjata bukan istilah diplomatik. Ia seharusnya berarti sesuatu yang dapat dirasakan tubuh.

Tidak ada ledakan.

Tidak ada tembakan.

Tidak perlu berlari.

Tidak perlu mengemasi barang karena kendaraan militer mendekat.

Tidak perlu meninggalkan rumah sakit karena rumah sakit pun dianggap tidak aman.

Namun ketika sebuah rumah sakit harus mengevakuasi stafnya untuk menyelamatkan mereka dari ancaman perang, kata “jeda” mulai terdengar seperti istilah yang terlalu mewah.

Di Gaza, bahkan ketenangan mungkin hanya diberi waktu satu hari.

Besok, kendaraan bisa kembali datang.

Pesawat bisa kembali terbang.

Tembakan bisa kembali terdengar.

Dan rumah sakit yang hari ini menutup pintunya demi keselamatan mungkin kembali membuka pintu esok hari untuk menerima korban dari perang yang katanya sedang berhenti.

Barangkali itulah wajah paling jujur dari gencatan senjata di Gaza: perang tidak selalu berhenti. Kadang ia hanya mengecilkan suaranya. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *