Mantan Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir mendesak tentara Israel melakukan pemboman dan penghancuran terhadap semua bantuan yang masuk ke Gaza, bersamaan dengan pemutusan total pasokan listrik dan air, meskipun kelompok hak asasi manusia dan para ahli memperingatkan akan terjadinya kelaparan di daerah yang terkepung itu.
Ben-Gvir mengatakan bahwa tindakan semacam itu harus diambil di Jalur Gaza untuk “membuat Hamas kelaparan” sebelum melanjutkan perang “sehingga kita dapat menghancurkan mereka dengan mudah nantinya”.
“Pemerintah juga harus memerintahkan pemboman terhadap stok bantuan yang terkumpul di Gaza dalam jumlah besar selama dan sebelum gencatan senjata, bersamaan dengan penutupan total pasokan listrik dan air”, tulis Ben-Gvir dalam sebuah posting di X (Twitter).
“Jika Hamas mengancam akan melukai sandera kami, mereka harus tahu bahwa mereka akan menghadapi eksekusi teroris,” tambahnya.
Rencana otoritas Israel untuk memutus pasokan air dan listrik sudah beredar sebelum pernyataan Ben Gvir. Itu semua adalah bagian dari strategi yang dimaksudkan untuk menerapkan “tekanan maksimum pada Jalur Gaza dan Hamas”, menurut penyiar Israel Kan 11.

Langkah tersebut, yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, menyusul pemblokiran bantuan untuk memasuki Jalur Gaza pada hari Minggu setelah berakhirnya fase pertama perjanjian gencatan senjata. Banyak pihak menganggap bahwa blokade total Israel terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza tersebut sebagai “tindakan hukuman kolektif yang kejam”.
Hamas menuntut agar Israel beralih ke fase kedua kesepakatan, yang mencakup penghentian perang secara definitif, penarikan pasukan Israel dari Gaza, dan pembebasan tawanan Israel yang tersisa, seperti yang disepakati sebelumnya.
Meskipun secara resmi menghentikan pertempuran, tentara Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata sejak mulai berlaku pada tanggal 19 Januari, dengan melancarkan serangan udara dan menembaki warga Palestina.
Beberapa kelompok hak asasi manusia dan pakar telah mengecam keputusan Israel untuk memblokir bantuan sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional”, dengan peringatan bahwa hal itu dapat memperdalam krisis kemanusiaan di Jalur Gaza.
Dalam sebuah posting di X, Doctors Without Borders (MSF) mengecam tindakan tersebut.
“Bantuan kemanusiaan tidak boleh digunakan sebagai alat perang. Terlepas dari negosiasi antara pihak yang bertikai, orang-orang di Gaza masih membutuhkan peningkatan pasokan kemanusiaan yang besar dan segera,” kata MSF. “Blokade total Israel terhadap bantuan kemanusiaan ke Gaza adalah tindakan hukuman kolektif yang kejam dan pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional.” [SHR]