Pemimpin Kelompok Perlawanan Houthi Yaman, Abdul-Malik Al-Houthi mengumumkan pada hari Jumat bahwa pihaknya akan melanjutkan serangannya di Laut Merah jika Israel tidak mengizinkan bantuan masuk ke Jalur Gaza dalam waktu empat hari.
Pemimpin Ansharullah itu menegaskan dalam pidato yang disiarkan oleh kantor berita Al-Masirah: “Kami akan memberikan batas waktu empat hari. Batas waktu ini untuk para mediator atas upaya mereka.”
Ia menambahkan: “Jika musuh Israel setelah empat hari terus mencegah bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza dan terus menutup penyeberangan sepenuhnya, kami akan melanjutkan operasi Angkatan Laut kami melawan musuh Israel. Kami akan mengimbangi blokade mereka dengan blokade.”
Menyusul ketidaksepakatan atas tahap selanjutnya dari perjanjian gencatan senjata yang mengakhiri agresi Israel di Gaza, pasukan Pendudukan mengumumkan penangguhan masuknya bantuan ke Jalur Gaza.
Langkah tersebut dikutuk secara luas karena dampak negatifnya terhadap 2,4 juta penduduk Jalur Gaza, yang sudah menghadapi kondisi kemanusiaan yang sangat buruk.
Sebelum gencatan senjata di Gaza dan setelah serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rezim Pendudukan tersebut pada 7 Oktober 2023, Houthi melancarkan puluhan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah dan Laut Arab. Mereka menggunakan rudal dan pesawat nirawak laut dan udara yang diluncurkan dari wilayah-wilayah yang berada di bawah kendali mereka di Yaman, sebagai bentuk dukungan bagi warga Palestina di Jalur Gaza.
Ancaman Houthi muncul beberapa hari setelah AS kembali mengklasifikasikan Kelompok Perlawanan Yaman tersebut sebagai organisasi teroris asing dan menjatuhkan sanksi kepada tujuh pemimpin seniornya. [SHR]