Komite Tinggi Urusan Suku di Gaza kemarin memperingatkan tentang rencana Israel untuk menggunakan geng-geng kriminal guna mencuri bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk ke daerah kantong itu untuk pertama kalinya dalam 11 minggu.
Dalam pernyataan resminya, Komite tersebut mengatakan bahwa rezim Pendudukan Israel mencegah segala “upaya untuk melindungi” bantuan yang seharusnya masuk ke Gaza, untuk melaksanakan “rencana jahat” yang ditujukan untuk “mendorong kekacauan dan pencurian melalui kelompok-kelompok kriminal yang bekerja langsung di bawah kendalinya”.
Komite tersebut menambahkan bahwa strategi ini merupakan bagian dari upaya sistematis untuk menyita bantuan kemanusiaan dengan tujuan membuat penduduk kelaparan dan mendorong mereka ke pengungsian paksa.
Komite tersebut mengecam keras penolakan Israel untuk memastikan perlindungan bantuan yang datang melalui penyeberangan Karm Abu Salem (Kerem Shalom), menjadikannya sasaran empuk bagi geng-geng dan pencuri yang menurutnya didukung oleh Pendudukan.
Ditekankan bahwa tentara Pendudukan Israel memainkan “peran nyata dalam mengelola dan memicu kekacauan di Gaza”, dengan menggunakan “jaringan kolaborator dan pencuri biadab yang telah menjual kesetiaan mereka dan mengabaikan patriotisme dan nilai-nilai kesukuan mereka”. Komite tersebut mengumumkan penarikan perlindungan nasional dan kesukuan dari orang-orang ini, dengan menggambarkan mereka sebagai “alat Pendudukan dalam melaksanakan proyek kriminalnya”.
Sebelum Israel menutup jalur penyeberangan pada tanggal 2 Maret, truk bantuan yang memasuki Gaza berulang kali menjadi sasaran pencurian dan penjarahan oleh geng-geng yang, menurut Kantor Media Pemerintah, beroperasi di bawah perlindungan tentara Israel untuk menyebarkan kekacauan.
Selama berbulan-bulan genosida, tentara Israel juga secara sengaja menargetkan personel yang mengamankan bantuan kemanusiaan yang tiba di Jalur Gaza dalam sebuah kebijakan yang menurut Kantor Media Pemerintah bertujuan untuk memfasilitasi pencurian melalui geng-geng penjarah yang disponsori oleh Tel Aviv dan untuk melanjutkan kebijakan membuat rakyat Palestina kelaparan. [SHR]