Indonesia Siap Dirikan Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) di Gaza

Dalam upaya mendukung pemulihan sistem kesehatan di Gaza setelah luluh lantak akibat perang selama 15 bulan, Maemuna Center Indonesia bersama Aqsa Working Group (AWG) menginisiasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia dan Anak (RSIA) Indonesia di Kota Gaza, Palestina. 

Seperti dilansir albalad.co, dalam jumpa pers di Kementerian Luar Negeri di Jakarta, pada hari Jumat (14/3/2025), Ketua Presidium AWG, M. Anshorullah menjelaskan bahwa RSIA Indonesia itu akan dibangun empat lantai dan lantai bawah tanah dengan luas bangunan 10.310 meter persegi. Bangunan rumah sakit ini akan menempati lahan wakaf seluas lima ribu meter persegi. 

Dia menambahkan proyek pembangunan RSIA Indonesia itu sudah mendapat izin dari Kementerian Kesehatan di Gaza. Lokasi RSIA Indonesia ini akan berdekatan dengan Rumah Sakit Anak Ar-Rantissi, yang kini sudah hancur menjadi puing-puing. 

Menurut Anshorullah, dalam proses pembangunannya akan melibatkan 75 persen orang Indonesia dan 25 persen warga Gaza. Dia menyebutkan Riza A. Wahyudi dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menjadi arsitek perencana utama RSIA Indonesia dan Edy Wahyudi, berpengalaman sebagai Site Manager Rumah Sakit Indonesia di utara Gaza, sebagai Ketua Tim Konstruksi RSIA Indonesia.

Dia mengakui situasi politik di Gaza yang belum pasti merupakan tantangan terbesar yang akan dihadapi dalam proses pembangunan RSIA Indonesia. Dia mencontohkan fase kedua gencatan senjata mestinya sudah dimulai sejak 2 Maret lalu, namun sampai sekarang belum ada kesepakatan antara Hamas dan Israel. 

Apalagi Israel sudah menyetop masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza setelah Hamas menolak perpanjangan fase pertama gencatan senjata, seperti diusulkan oleh utusan Amerika Serikat untuk Timur Tengah, Steve Witkoff. 

Anshorullah bilang jika pembangunan RSIA Indonesia telah rampung, maka pengelolaannya diserahkan kepada Kementerian Kesehatan di Gaza. Proyek ini diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp402 miliar, termasuk untuk membeli seluruh peralatan kesehatan yang dibutuhkan.

“Dari mana sumbernya? Murni dari (sumbangan) masyarakat Indonesia,” katanya. “Kita kerja sama dengan berbagai pihak.”

Dia mengungkapkan sejauh ini dana sumbangan terkumpul untuk proyek pembangunan RSIA Indonesia di Kota Gaza baru sekitar satu persen dari Rp402 miliar, dengan tahap awal penggalangan dana sebesar Rp201 miliar. 

Anshorullah belum bisa memastikan berapa lama pembangunan RSIA Indonesia akan selesai karena memang situasinya tidak menentu, tapi dalam keadaan normal, proyek ini dapat dirampungkan dalam dua tahun. 

Dia mengatakan tim perintis akan berangkat ke Gaza akhir bulan ini atau awal bulan depan. Dia berharap peletakan batu pertama bisa dilakukan pertengahan bulan depan.  

Menurut Ketua Tim Konstruksi RSIA Indonesia, Edy Wahyudi, memang ada perubahan dalam perencanaan pembangunan rumah sakit tersebut selama beberapa kali berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan di Gaza. Hal ini disebabkan ada sejumlah masukan dari pihak Palestina sehingga dilakukan beberapa revisi perencanaan. 

“Seperti pengalaman yang lalu juga begitu. Sudah dibangunkan (Rumah Sakit Indonesia), mereka juga ingin berubah-ubah karena kepentingan-kepentingan tertentu,” ujarnya. 

Dalam konteks proyek RSIA Indonesia, dia mencontohkan mulanya direncanakan berkapasitas 50 tempat tidur rawat inap. Namun setelah beberapa kali berdiskusi dengan Kementerian Kesehatan di Gaza, mereka meminta RSIA Indonesia nanti berkapasitas minimum seratus tempat tidur. Setelah desain RSIA diubah dan dikirim ke pihak Kementerian Kesehatan di Gaza, mereka merevisi lagi.

Menurut Edy, proses pembangunan nantinya akan menyesuaikan situasi dan kondisi di lapangan. Kalau memang ada yang bisa dilakukan, maka akan dikerjakan. Akan tetapi, bila situasi tidak kondusif atau keadaan perang, pengerjaannya dihentikan dulu kalau memang masih dalam tahap misalnya peletakan batu pertama atau penggalian lantai bawah tanah. 

Dalam sambutannya, Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri, Ahrul Tsani Fathurrahman menegaskan bahwa Pemerintah sangat mendukung proyek pembangunan RSIA Indonesia di Kota Gaza. Dia mengatakan proyek ini sejalan dengan keinginan dunia internasional untuk membangun kembali Gaza setelah hancur akibat perang.

Dia menyebutkan salah satu inisiatif global itu adalah proposal rekonstruksi Gaza versi Mesir dan diadopsi dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab digelar pekan lalu di Ibu Kota Kairo. Total anggaran yang dibutuhkan sekitar US$ 53 miliar. 

Menurut Ahrul, Indonesia harus hadir dalam bentuk apa pun untuk mendukung upaya internasional dalam membantu proses rekonstruksi di Gaza.

“Selain AWG, Maemuna Center, kita juga mencatat insiatif-inisiatif lain juga yang digagas, misalnya Baznas, MER-C untuk renovasi Rumah Sakit Indonesia yang ada di Gaza utara,” tuturnya. 

Dia mengharapkan insiatif-inisiatif itu dapat menggugah lembaga-lembaga kemanusiaan Indonesia lainnya yang memiliki gagasan serupa untuk mendukung proses rekonstruksi Gaza. 

Jika pembangunan RSIA Indonesia sudah rampung, maka Indonesia bakal memiliki dua rumah sakit di wilayah Palestina, yakni Rumah Sakit Indonesia di Bait Lahiya, utara Gaza, dan RSIA Indonesia di Kota Gaza.

Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara, yang diinisiasi oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dibangun pada 2011 dan telah beroperasi sejak 2016. Namun rumah sakit ini mesti direnovasi karena kerap menjadi sasaran serangan dan bahkan dijadikan markas pasukan Israel selama 15 bulan Perang Gaza berlangsung. [SHR]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *