Pemerintahan De facto Yaman yang dipimpin Houthi telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Anton Oilfield Services Group (AntonOil) China dan perwakilan Pemerintah China untuk berinvestasi dalam eksplorasi minyak di negara tersebut.
Menurut sebuah laporan oleh kantor Berita Saba yang berbasis di Sanaa, MoU datang setelah banyak negosiasi dan koordinasi dengan beberapa perusahaan asing untuk meyakinkan mereka berinvestasi di sektor minyak di negara yang dilanda perang itu.
Kementerian Perminyakan dan Mineral Pemerintah Sanaa yang menandatangani perjanjian itu juga memperingatkan perusahaan asing agar tidak berurusan dengan Dewan Kepemimpinan Presiden yang diprakarsai Saudi, yang saat ini mewakili Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.
Menteri Perminyakan dan Mineral, Ahmed Dares meminta perusahaan asing untuk mengunjungi Yaman untuk melihat potensi, peluang investasi, keuntungan dan fasilitas yang ditawarkan di negara tersebut.
“Ada banyak negosiasi yang sedang berlangsung dengan berbagai perusahaan terkenal untuk berinvestasi di sektor eksplorasi minyak negara ini,” tambah pejabat Yaman itu. “Akan ada pekerjaan untuk memberikan sentuhan akhir pada penandatanganan MoU.”
Dares juga memuji “upaya Kementerian Perminyakan dan upayanya mendorong investasi di sektor vital ini, mengembangkannya, dan memanfaatkan kekayaan ini untuk kepentingan negara”.
Dengan masuk dalam kesepakatan eksplorasi minyak, China menjadi negara terbaru yang secara implisit mengakui National Salvation Government (NSG) pimpinan Houthi, yang sejauh ini hanya memiliki hubungan diplomatik dengan Iran dan Suriah. Dalam langkah besar, Arab Saudi yang telah mengobarkan perang melawan Yaman sejak 2014, mengirim delegasi ke Ibu Kota Yaman bulan lalu untuk mengadakan negosiasi damai dengan NSG, meningkatkan prospek untuk mengakhiri konflik yang menghancurkan dan legitimasi bagi pihak berwenang di Sanaa.
Akhir bulan lalu, anggota Biro Politik Gerakan Houthi, Ali Al-Qahoum memuji Beijing, dengan mengatakan bahwa “mereka muncul memainkan peran penting dan membuat perjanjian yang memulihkan ketenangan, perdamaian, dan hubungan diplomatik antara negara-negara di kawasan.”
“Perjanjian Saudi-Iran di bawah naungan China memiliki dampak positif antara negara-negara ini di tingkat internal dan regional,” tambahnya, menunjukkan bahwa “China harus mengambil kembali peran vitalnya di Kawasan demi mengakhiri hegemoni Barat terkait gangguan stabilitas dan kedaulatan negara-negara Asia Barat, penghancuran bangsa-bangsa, dan menghentikan campur tangan Barat dalam menyulut perselisihan dan perang.” [SHR]