Eks PM Israel Tak Merasa Bersalah Bunuh Warga Palestina

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak merasa tak bersalah atas terbunuhnya warga Palestina di awal meletusnya Intifada Kedua pada tahun 2000. “Selama yang terbunuh warga Arab Israel, saya tidak bersalah,” katanya kepada Surat Kabar Israel, Yedioth Ahronotoh seperti dikutip Middle East Eye, 18 Februari.

Intifada Kedua atau yang dikenal Intifada Al-Aqsa mulai terjadi pada September 2000. Peristiwanya dipicu tentara bersenjata Israel yang menyerang Masjid Al-Aqsa. 

Warga Palestina yang saat itu baru saja memperingati pembantaian Sabra dan Shatila 1982 tak tinggal diam. Mereka turun ke jalan memprotes dan akhirnya berhadapan dengan kebrutalan polisi Israel. 

Atas tindakan brutal itu, warga Palestina lainnya turun ke jalan mengutuk tindakan represif polisi dan menyuarakan solidaritas untuk warga tertindas di kompleks Masjid Al-Aqsa dan Jalur Gaza. 

Dalam glombang demonstrasi itu, polisi mengeluarkan tembakan dan menewaskan 13 warga Palestina yang tak bersenjata.

Pemberontakan ‘Intifada Kedua’ akhirnya meletus dan berakhir pada Februari 2005. Setidaknya 3000 orang Palestina terbunuh dan lebih dari seribu orang Israel tewas selama Intifada ini. Sementara Lembaga Pusat HAM Palestina melaporkan total orang tewas sebanyak 4.973. 

Ehud Barak menjabat Perdana Menteri Israel sejak 1999 hingga 2001. Pada 2019, Barak meminta maaf atas terbunuhnya 2000 orang Palestina selama masa jabatannya sebagai PM Israel. Komunitas Palestina di tanah pendudukan menolak permintaan maafnya.   

Namun pada Jumat silam, 18 Februari, Barak mengungkapkan bahwa ia tak bersalah. Ia bilang, situasi pada tahun 2000 seperti ‘kebun binatang’ yang mengalami ‘kekacauan’ di wilayah pendudukan Tepi Barat. “Selama yang terbunuh warga Arab Israel, saya tidak bersalah,” katanya.[]

 

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.