Serangan udara Israel menghantam Universitas Islam Gaza ketika mahasiswa berada di kampus. Hamas menyebut tiga staf universitas tewas dan sejumlah orang terluka, serta mendesak para penjamin gencatan senjata mengambil tindakan. Informasi korban tersebut belum diverifikasi secara independen.
Kampus semestinya menjadi tempat orang belajar memahami dunia, bukan tempat mereka kehilangan nyawa karenanya. Namun, di Gaza, bahkan ruang pendidikan belum terbebas dari ancaman serangan.
Pada Minggu, serangan udara Israel dilaporkan menghantam kampus Universitas Islam di Kota Gaza ketika para mahasiswa berada di sana. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut tiga staf universitas tewas dan beberapa orang lainnya terluka. Rincian korban dan kronologi serangan itu belum dapat diverifikasi secara independen berdasarkan laporan yang tersedia.
Hamas mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang”. Kelompok itu mendesak para penengah dan negara-negara penjamin kesepakatan gencatan senjata agar segera bertindak untuk mencegah serangan lanjutan.
Bagi sebuah universitas, kehilangan staf bukan sekadar berkurangnya tenaga pengajar atau pekerja. Ada pengetahuan yang terputus, keluarga yang kehilangan orang tercinta, dan mahasiswa yang harus menghadapi kenyataan bahwa tempat mereka menuntut ilmu pun dapat berubah menjadi lokasi kematian.
Gencatan Senjata di Bawah Bayang-bayang Serangan
Hamas menuduh Israel terus melakukan operasi militer terhadap kawasan permukiman, kamp pengungsian, dan fasilitas sipil meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan. Kelompok itu menggambarkan serangan ke universitas sebagai bagian dari rangkaian kekerasan yang terus menimpa penduduk Gaza.
Hamas juga menuduh pasukan Israel menggeser “garis kuning”—batas yang ditetapkan dalam kesepakatan gencatan senjata—ke arah barat, sehingga memperluas wilayah kendali mereka. Tuduhan lain menyangkut pembatasan masuknya bahan pangan pokok ke Gaza, yang menurut Hamas bertentangan dengan komitmen dalam kesepakatan tersebut.
Tuduhan-tuduhan itu belum seluruhnya terverifikasi secara independen dalam laporan ini. Namun, seruan Hamas menyoroti persoalan mendasar yang dihadapi gencatan senjata: kesepakatan di atas kertas tidak dengan sendirinya menjamin keselamatan warga sipil di lapangan.
Hamas meminta para penengah menekan Israel agar menghentikan operasi militer, membuka akses bantuan kemanusiaan, dan memenuhi kebutuhan lebih dari dua juta warga Palestina yang masih menghadapi krisis berat.
Ketika Ruang Belajar Kehilangan Rasa Aman
Universitas bukan hanya bangunan berisi ruang kuliah, perpustakaan, dan laboratorium. Ia adalah tempat sebuah masyarakat menyiapkan masa depan—tempat mahasiswa membangun cita-cita, dosen meneruskan pengetahuan, dan keluarga menggantungkan harapan pada pendidikan anak-anak mereka.
Ketika kampus diserang, dampaknya tidak berhenti pada kerusakan fisik atau jumlah korban. Rasa aman yang menjadi syarat bagi proses belajar ikut terkikis. Pendidikan berlangsung di bawah ketidakpastian, sementara orang-orang yang seharusnya memikirkan masa depan harus lebih dahulu menghadapi ancaman hari ini.
Hukum humaniter internasional memberikan perlindungan kepada warga sipil dan fasilitas sipil, termasuk lembaga pendidikan, kecuali dan selama suatu fasilitas memenuhi syarat sebagai sasaran militer menurut hukum yang berlaku. Penilaian hukum atas serangan tertentu memerlukan pemeriksaan terhadap fakta, sasaran, dan keadaan serangan tersebut.
Karena itu, tuntutan atas kejelasan bukan perkara kecil. Kronologi serangan, identitas korban, sasaran yang dituju, serta langkah-langkah yang diambil untuk melindungi warga sipil perlu diperiksa secara menyeluruh.
Para penjamin gencatan senjata kini menghadapi pertanyaan yang tak bisa dijawab hanya dengan pernyataan keprihatinan: bagaimana memastikan kesepakatan benar-benar melindungi kehidupan di Gaza?
Sebab jika mahasiswa masih terancam ketika berada di kampus, gencatan senjata belum sepenuhnya menghadirkan ketenangan. Dan ketika tiga staf universitas dilaporkan tewas di tempat mereka bekerja, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan hari ini, melainkan juga kesempatan sebuah generasi untuk membangun hari esok. [SHR]