Aktivis Internasional Ditahan Saat Ikut Panen Zaitun

Sebelas aktivis internasional ditahan tentara Israel ketika mendampingi petani Palestina di Tepi Barat. Mereka datang untuk membantu panen, di tengah ancaman dan serangan yang membayangi para petani di tanah mereka sendiri.

Di Al-Buwaib, sebelah selatan Hebron, panen zaitun bukan semata urusan memetik buah dari pohon. Bagi petani Palestina, musim panen juga berarti berhadapan dengan ancaman, menjaga akses ke lahan, dan mempertahankan penghidupan yang bertumpu pada tanah yang mereka garap turun-temurun.

Kamis pagi, menurut Kampanye Fazaa, sebelas aktivis solidaritas internasional yang membantu panen zaitun di desa itu ditahan oleh pasukan Israel. Mereka berasal dari Italia, Jerman, Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Hingga laporan tersebut disampaikan, alasan penahanan mereka belum dijelaskan oleh otoritas Israel.

Kementerian Luar Negeri Italia mengonfirmasi bahwa empat perempuan warga negaranya termasuk di antara mereka yang ditahan. Pemerintah Italia, menurut Kampanye Fazaa, telah menghubungi pihak berwenang Israel untuk meminta penjelasan mengenai kondisi dan status penahanan mereka.

Otoritas Israel belum segera memberikan komentar.

Memanen di Bawah Ancaman

Para aktivis itu datang untuk mendampingi komunitas petani Palestina yang menghadapi ancaman dan serangan dari pemukim Israel selama musim panen zaitun. Kehadiran sukarelawan internasional menjadi bagian dari upaya solidaritas untuk menemani petani mengakses lahan mereka di tengah situasi yang tidak selalu aman.

Bagi para petani, pohon zaitun bukan sekadar tanaman pertanian. Buahnya menopang pendapatan keluarga, sementara pohonnya menjadi bagian dari ingatan dan ikatan antargenerasi dengan tanah. Ketika akses menuju kebun dibatasi atau kegiatan panen dibayangi kekerasan, yang terancam bukan hanya hasil pertanian, melainkan juga keberlangsungan hidup komunitas.

Di sejumlah wilayah Tepi Barat, para aktivis internasional turut mendampingi petani selama musim panen, terutama di kawasan yang menghadapi kekerasan pemukim dan pembatasan akses ke lahan. Namun, insiden di Al-Buwaib menunjukkan bahwa mereka yang datang untuk memberikan dukungan pun dapat berhadapan dengan penahanan.

Tanah, Zaitun, dan Kebebasan untuk Bertahan

Penahanan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya operasi militer Israel dan serangan pemukim terhadap warga Palestina serta properti mereka di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur, sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023.

Dalam situasi seperti itu, musim panen menjadi lebih dari sekadar kalender pertanian. Ia menjadi ujian atas kemampuan petani untuk tetap bekerja, merawat pohon, dan memperoleh hasil dari lahan mereka sendiri.

Belum ada penjelasan resmi mengenai alasan sebelas aktivis itu ditahan. Karena itu, rincian penahanan dan dasar tindakan aparat masih memerlukan klarifikasi. Namun, pertanyaan yang lebih luas tetap mengemuka: bagaimana petani dapat menjalankan pekerjaan sehari-hari jika jalan menuju kebun dipenuhi ancaman, sementara orang-orang yang datang untuk mendampingi mereka juga berisiko ditahan?

Pohon zaitun tumbuh perlahan. Ia membutuhkan waktu, perawatan, dan musim yang berulang sebelum menghasilkan buah. Petani merawatnya bukan hanya untuk panen hari ini, tetapi juga untuk tahun-tahun yang akan datang.

Di Al-Buwaib, sebelas aktivis datang untuk membantu pekerjaan itu. Mereka justru berakhir dalam tahanan. Sementara itu, bagi para petani Palestina, musim panen terus berjalan bersama ketidakpastian: buah harus dipetik, tetapi jalan menuju pohon pun belum tentu aman. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *