Saat ini, jutaan ton puing-puing di Gaza mungkin terlihat seperti sisa perang belaka. Namun di bawah beton yang hancur itu, ada jenazah dari manusia-manusia yang sebelumnya bernyawa. Ada barang-barang milik korban. Ada jejak yang mungkin kelak diperlukan untuk mengungkap bagaimana kejahatan keji yang dilakukan oleh rezim Zionis Israel itu terjadi.
Karena itu, Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese, memperingatkan agar pembersihan puing-puing di Gaza tidak berubah menjadi upaya penghapusan bukti.
Albanese mengatakan proses pemindahan, penghancuran, dan relokasi puing di wilayah Gaza yang berada di bawah kendali militer Israel tidak boleh menghancurkan bukti kejahatan internasional atau menghambat evakuasi dan identifikasi jenazah.
Peringatan itu disampaikan ketika upaya membersihkan wilayah yang porak-poranda mulai menjadi bagian dari pembicaraan mengenai rekonstruksi Gaza.
Masalahnya, Gaza bukan hanya memiliki puing.
Ia memiliki masa lalu yang belum selesai.
Di Bawah Beton, Ada Kesaksian
Otoritas Palestina memperkirakan lebih dari 10.000 orang masih terkubur di bawah reruntuhan.
Angka itu sendiri sudah cukup untuk menggambarkan skala kehancuran.
Namun bagi Albanese, puing-puing tersebut memiliki arti lebih jauh. Di sana terdapat jenazah dan bukti fisik yang relevan bagi penyelidikan dugaan kejahatan internasional, termasuk genosida.
Karena itu, ia menyerukan agar jenazah dievakuasi dan diidentifikasi terlebih dahulu. Dokumentasi harus dilakukan secara sistematis. Potensi bukti harus dilestarikan sebelum alat berat mulai bekerja.
Ia juga meminta penyelidik pidana internasional mengawasi proses pengumpulan bukti.
Sebab sekali sebuah bangunan dihancurkan dan puingnya dipindahkan tanpa dokumentasi yang memadai, sebagian cerita mungkin ikut hilang bersamanya.
Beton dapat dihancurkan.
Bukti pun bisa.
Rekonstruksi Bukan Penghapusan
Ada ironi dalam pekerjaan membersihkan puing-puing perang.
Semua orang ingin Gaza kembali berdiri. Rumah-rumah harus dibangun. Jalan harus dibuka. Rumah sakit harus dipulihkan. Sekolah harus kembali menjadi sekolah.
Namun sebelum semuanya dibangun kembali, ada sesuatu yang harus dipastikan tidak ikut dihancurkan: ingatan tentang bagaimana kehancuran itu terjadi.
Albanese meminta agar setiap proses pembersihan dilakukan berdasarkan rencana yang disusun pihak Palestina dan didukung pihak-pihak yang dipercaya masyarakat Palestina.
Ia juga memperingatkan negara dan perusahaan yang terlibat dalam pembersihan puing bahwa penghancuran bukti kejahatan internasional dapat menimbulkan pertanggungjawaban pidana internasional.
Peringatan itu penting karena rekonstruksi memiliki dua kemungkinan; Ia dapat menjadi awal kehidupan baru. Atau, jika dilakukan tanpa kehati-hatian, menjadi cara paling rapi untuk menutup halaman lama.
Puing-puing di Gaza memang menghalangi jalan. Namun ia juga menyimpan sesuatu yang lebih penting daripada sekadar material bangunan: jejak manusia yang hilang.
Jangan Terlalu Cepat Membersihkan
Rekonstruksi biasanya dimulai dengan membersihkan.
Mengangkat beton.
Memindahkan besi.
Meratakan tanah.
Membuka jalan.
Dalam keadaan normal, itu adalah pekerjaan teknis.
Di Gaza, pekerjaan tersebut juga memiliki dimensi hukum dan kemanusiaan.
Sebab di antara beton yang retak, mungkin ada tubuh manusia yang belum ditemukan. Di antara reruntuhan rumah mungkin terdapat bukti tentang siapa yang berada di sana, bagaimana mereka tewas, dan apa yang terjadi sebelum bangunan itu runtuh.
Karena itu, keinginan untuk segera membersihkan Gaza harus berhadapan dengan kebutuhan untuk terlebih dahulu mengetahui apa yang sebenarnya terkubur di sana.
Albanese menegaskan bahwa menghancurkan bukti kejahatan internasional adalah tindakan ilegal.
Rekonstruksi, katanya, tidak boleh dikaitkan dengan penghapusan masa lalu dan bukti yang dibutuhkan untuk menegakkan keadilan bagi para korban.
Itulah persoalan yang sering dilupakan ketika dunia mulai berbicara tentang pembangunan kembali.
Sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton.
Ia juga dibangun dari ingatan.
Dan Gaza memiliki terlalu banyak ingatan yang terkubur.
Karena itu, sebelum ekskavator bergerak dan puing-puing diangkut, mungkin ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu:
Apa yang sedang kita bersihkan—reruntuhan, atau jejak tentang siapa yang menghancurkannya?
Sebab jika rekonstruksi dimulai dengan menghapus bukti, Gaza mungkin memang akan terlihat lebih bersih. Namun keadilan akan kehilangan tempat untuk berpijak. [SHR]