Warga Palestina berkumpul di luar Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza pada hari Selasa untuk memprotes apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Israel terhadap gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, menyusul seruan dari berbagai kelompok nasional dan Islam.
Para pengunjuk rasa menggelar aksi untuk mengecam dugaan pelanggaran tersebut dan mendesak agar gencatan senjata tetap dipatuhi.
Dalam demonstrasi yang dihadiri oleh kerabat korban tewas dan perwakilan organisasi hak asasi manusia, para pembicara menyatakan bahwa lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas dalam berbagai serangan sejak gencatan senjata dideklarasikan.
Para pengunjuk rasa mendesak masyarakat internasional dan kelompok hak asasi manusia untuk mengambil tindakan guna menghentikan pelanggaran gencatan senjata dan melindungi warga sipil.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengatakan kepada kantor berita Anadolu bahwa Israel telah secara sistematis melanggar kesepakatan gencatan senjata sejak kesepakatan itu mulai berlaku.
Qassem menyebut penutupan terus-menerus di perbatasan, pembatasan bantuan kemanusiaan, dan berbagai tindakan di lapangan sebagai bukti adanya pelanggaran gencatan senjata. Ia juga mendesak para mediator internasional dan pihak penjamin kesepakatan untuk bertanggung jawab.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel telah menewaskan 1.021 warga Palestina dan melukai 3.249 lainnya sejak akhir tahun 2025 akibat pelanggaran harian terhadap gencatan senjata yang sedang berlaku.
Perang genosida Israel terhadap Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan 73.032 orang, melukai lebih dari 173.300 orang, dan menyebabkan kehancuran masif pada sekitar 90% infrastruktur wilayah tersebut, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan biaya rekonstruksi mencapai sekitar 70 miliar dolar AS. [SHR]