Kebiadaban Israel Ubah Distribusi Bantuan Jadi Jebakan Kematian

Titik distribusi bantuan Israel telah menjadi “jebakan maut” bagi warga sipil yang kelaparan di Jalur Gaza, kata Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) kemarin.

Hampir 50 warga Palestina tewas dan lebih dari 200 lainnya terluka ketika pasukan Pendudukan Israel menembaki warga Palestina yang mencari bantuan kemanusiaan di dekat titik distribusi di kota selatan Rafah kemarin, kata Kementerian Kesehatan.

Dalam rekaman video amatir yang kini viral di media sosial, terdengar teriakan “Ya Allah! Ya Allah!” dari para pencari bantuan disertai bunyi tembakan bertubi-tubi tentara Israel. Tubuh sejumlah korban pun terlihat berserakan di tanah, sementara orang-orang yang terluka menjerit minta tolong. Akibat kebiadaban Israel tersebut, banyak dari warga yang semula datang ke lokasi hanya untuk mencari makanan bagi anak-anak mereka, lari ketakutan dan pulang dengan tangan hampa.

“Distribusi bantuan telah menjadi perangkap maut,” kata Komisaris Jenderal UNRWA, Philippe Lazzarini dalam sebuah pernyataan.

Israel telah menyusun rencana untuk membangun empat titik distribusi bantuan di Gaza selatan dan tengah, yang menurut media Israel bertujuan untuk memaksa warga Palestina keluar dari Gaza utara ke selatan.

Menurut Radio Angkatan Darat Israel, rencana distribusi bantuan Israel bertujuan untuk mengubah wilayah utara menjadi “daerah yang benar-benar kosong”.

“Sistem yang memalukan ini telah memaksa ribuan orang yang kelaparan dan putus asa untuk berjalan kaki puluhan mil ke daerah yang hampir hancur karena pemboman besar-besaran oleh Tentara Israel,” kata Lazzarini.

“Pengiriman dan distribusi bantuan harus dalam skala besar dan aman. Di Gaza, ini hanya dapat dilakukan melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk UNRWA,” tambahnya.

Kepala UNRWA meminta Israel untuk menghentikan pengepungannya di Gaza dan mengizinkan PBB mengakses dengan mdah dan tanpa hambatan untuk membawa bantuan dan mendistribusikannya dengan aman.

“Ini adalah satu-satunya cara untuk mencegah kelaparan massal, termasuk di antara 1 juta anak-anak di Gaza,” katanya.

“Dengan narasi yang saling bersaing dan kampanye disinformasi yang sedang berlangsung, media internasional harus diizinkan masuk ke Gaza untuk melaporkan secara independen tentang kekejaman yang sedang berlangsung, termasuk kejahatan keji pagi ini.”

Sejak 2 Maret, Israel telah menutup semua penyeberangan perbatasan ke Gaza, menghentikan masuknya makanan, obat-obatan, bahan bakar, dan pasokan penting lainnya bagi 2,3 juta penduduk Gaza.

Menolak seruan internasional untuk gencatan senjata, Israel telah melakukan serangan yang menghancurkan di Gaza sejak Oktober 2023, menewaskan lebih dari 54.400 warga Palestina, kebanyakan dari mereka adalah wanita dan anak-anak. Badan-badan bantuan kemanusiaan pun telah berulang kali memperingatkan tentang risiko kelaparan di antara penduduk daerah yang sejak lama diblokade itu. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *