Rumah sakit di Gaza menghadapi ancaman yang tak kalah genting dari serangan brutal Israel: kehabisan bahan bakar untuk menghidupkan generator listrik. Jika mesin-mesin itu berhenti, layanan medis penyelamat nyawa terancam ikut padam.
Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan pada Rabu bahwa persediaan bahan bakar untuk mengoperasikan generator telah habis. Generator yang masih berfungsi pun berada dalam kondisi teknis yang rentan, dengan risiko kerusakan mekanis dan penurunan kinerja secara tiba-tiba.
Di rumah sakit, listrik bukan sekadar soal lampu yang menyala atau ruangan yang terang. Ia menopang berbagai unit vital yang dibutuhkan untuk merawat pasien. Ketika pasokan listrik terputus, pekerjaan medis yang bergantung pada peralatan dan sistem penunjang dapat terganggu—tepat ketika setiap menit mungkin menentukan hidup dan mati seseorang.
Menurut Kementerian Kesehatan, rumah sakit di Gaza membutuhkan lebih dari 2.500 liter bahan bakar setiap bulan untuk menjalankan generator mereka. Persediaan yang terbatas membuat keberlangsungan layanan medis berada dalam ketidakpastian.
Mesin yang Dipaksa Bertahan
Kementerian menyatakan telah berulang kali memperingatkan bahwa pasokan darurat dalam jumlah terbatas tidak cukup untuk menjaga generator tetap beroperasi dalam jangka panjang. Mesin-mesin itu bekerja berjam-jam, sementara kebutuhan pemeliharaan dan suku cadang tak bisa terus ditunda.
Generator yang terus dipaksa bekerja tanpa perawatan memadai bukanlah jaminan keselamatan. Ia justru dapat menjadi titik rapuh bagi rumah sakit yang menggantungkan layanan penting pada mesin tersebut.
Karena itu, Kementerian Kesehatan mendesak pihak-pihak terkait segera memastikan masuknya bahan bakar dan suku cadang. Seruan itu, menurut kementerian, merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan yang tak bisa ditangguhkan.
Ketika Listrik Ikut Menjadi Pertaruhan
Sistem kesehatan Gaza telah lama bekerja di tengah kerusakan luas pada infrastruktur dan keterbatasan sumber daya. Di saat yang sama, serangan dan pelanggaran gencatan senjata yang dilaporkan terus berlangsung menambah tekanan terhadap layanan medis yang tersisa.
Menurut angka yang dikutip dalam laporan tersebut, lebih dari 1.500 orang tewas selama setahun terakhir dalam rangkaian kekerasan di tengah gencatan senjata. Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan 175.000 lainnya terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur Gaza disebut telah hancur atau rusak.
Angka-angka itu menggambarkan kehancuran yang jauh melampaui bangunan runtuh. Di baliknya ada rumah sakit yang berusaha tetap bekerja, tenaga medis yang harus mengambil keputusan dalam keterbatasan, serta pasien yang tak punya pilihan selain berharap layanan yang mereka butuhkan masih tersedia.
Bagi seorang pasien, padamnya listrik mungkin tidak terdengar seperti sebuah peristiwa besar. Tidak ada ledakan yang mengguncang jendela, tidak ada bangunan yang ambruk. Hanya mesin yang berhenti, alat yang kehilangan daya, dan layanan yang tak lagi bisa dijalankan sebagaimana mestinya.
Namun, dalam sebuah rumah sakit, kesunyian mesin bisa membawa akibat yang menentukan.
Gaza kini menunggu bukan hanya bahan bakar untuk menghidupkan generator, melainkan juga tindakan nyata agar rumah sakitnya tidak kehilangan kemampuan menyelamatkan nyawa. Sebab ketika listrik padam di ruang perawatan, yang ikut dipertaruhkan bukan sekadar nyala lampu, melainkan kesempatan seseorang untuk tetap hidup. [SHR]