Gencatan senjata seharusnya memberi orang-orang kesempatan untuk bernapas. Di Gaza, bahkan jeda perang belum menjamin seseorang bisa melewati malam dengan selamat.
Enam warga Palestina, termasuk dua anak dan sepasang suami istri, tewas dalam serangkaian serangan Israel pada Selasa. Sebelas orang lainnya terluka. Serangan terjadi di sejumlah wilayah Jalur Gaza, ketika kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025 masih menjadi pegangan bagi warga yang bertahan di tengah kehancuran.
Di barat Kota Gaza, sebuah rumah kembali menjadi tempat kematian.
Menurut sumber medis di Rumah Sakit Al-Shifa yang dikutip Anadolu, jenazah sepasang suami istri dibawa ke rumah sakit setelah serangan udara menghantam rumah mereka. Empat orang lainnya terluka, termasuk tiga perempuan.
Para saksi mata mengatakan sebuah helikopter Israel menembakkan sedikitnya satu rudal ke rumah tersebut, tidak jauh dari Rumah Sakit Al-Shifa. Serangan itu memicu kebakaran di dalam bangunan. Tim pertahanan sipil kemudian berusaha memadamkan api.
Tidak ada uraian tentang apa yang sedang dilakukan pasangan itu sebelum serangan datang.
Mungkin mereka sedang beristirahat. Mungkin sedang berbicara. Mungkin sekadar mencoba menjalani hari biasa—sesuatu yang di banyak tempat merupakan hal paling sederhana, tetapi di Gaza terus menjadi kemewahan.
Yang diketahui, keduanya tidak pulang dari rumah itu dalam keadaan hidup.
Anak-anak di Jalur Tembak
Di Gaza, kematian juga datang tanpa harus didahului kehancuran sebuah bangunan.
Seorang anak Palestina tewas akibat tembakan Israel di kawasan Wadi Gaza, menurut sumber medis yang dikutip Anadolu. Di selatan, seorang anak lainnya tewas ditembak di Qizan Abu Rashwan, sebelah selatan Khan Younis.
Dua anak. Dua lokasi. Dua kehidupan yang berhenti di tengah wilayah yang masih diliputi ketidakpastian.
Sumber medis juga melaporkan seorang warga Palestina tewas di dekat pemakaman al-Sawarha, sebelah barat kamp pengungsi Nuseirat. Seorang lainnya terluka dalam insiden yang sama. Di lingkungan Zeitoun, tenggara Kota Gaza, seorang warga Palestina lain dilaporkan tewas dalam serangan Israel.
Sementara itu, seorang warga mengalami luka serius akibat serangan drone di kawasan al-Qasasib, kamp pengungsi Jabalia.
Rangkaian kejadian itu memperlihatkan betapa luasnya wilayah yang masih menghadapi bahaya. Utara, tengah, selatan—nama-nama tempat yang bagi pembaca mungkin hanya tampak sebagai titik pada peta, tetapi bagi penduduknya merupakan rumah, lingkungan, dan tempat orang-orang yang mereka kenal menjalani hidup.
Di Gaza, garis antara tempat berlindung dan tempat berbahaya terus terasa rapuh.
Malam yang Tidak Memberi Jeda
Di lingkungan Tuffah, timur Kota Gaza, tentara Israel dilaporkan melancarkan serangan artileri dan melepaskan tembakan dari kendaraan militer serta drone quadcopter ke arah rumah-rumah dan tenda pengungsian.
Menurut para saksi, serangan dan tembakan berlangsung sepanjang malam. Ledakan juga terdengar ketika bangunan-bangunan sipil dihancurkan di wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel.
Di pesisir utara Kota Gaza, kapal perang Israel dilaporkan menembakkan peluru dan proyektil ke arah pantai. Di Sudaniya, barat laut Jalur Gaza, kendaraan militer melepaskan tembakan. Sementara itu, para saksi melaporkan tembakan tank ke arah rumah dan tenda pengungsi di berbagai bagian Khan Younis, disertai penghancuran bangunan di kawasan timur kota tersebut.
Di antara semua itu, kehidupan sipil tetap berlangsung dalam bentuk yang paling rapuh: keluarga yang tinggal di tenda, orang-orang yang berlindung di bangunan tersisa, dan anak-anak yang harus tidur ketika suara tembakan belum tentu berhenti.
Tenda seharusnya menjadi tempat beristirahat setelah seseorang kehilangan rumah. Rumah sakit seharusnya menjadi tempat mencari pertolongan. Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman bagi keluarga.
Namun laporan dari Gaza kembali memperlihatkan bagaimana tempat-tempat itu tidak selalu mampu menjalankan fungsinya.
Angka yang Terus Bertambah
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat bahwa sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, pelanggaran yang dikaitkannya dengan Israel telah menyebabkan 1.522 warga Palestina tewas dan 5.421 lainnya terluka.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 175.000 terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza disebut mengalami kerusakan atau kehancuran.
Angka-angka itu membantu menggambarkan skala bencana. Namun angka tidak selalu sanggup menerangkan apa yang terjadi setelah sebuah keluarga kehilangan anggotanya.
Satu korban berarti ada seseorang yang tidak lagi menjawab panggilan.
Satu anak yang tewas berarti ada masa depan yang tidak pernah sampai pada hari esok.
Sepasang suami istri yang meninggal dalam satu serangan berarti ada kehidupan bersama yang terputus dalam sekejap—dan orang-orang yang harus menanggung kehilangan itu setelah suara ledakan berlalu.
Angka akhirnya masuk ke laporan. Nama-nama mungkin dicatat. Jenazah dibawa ke rumah sakit atau tempat pemakaman. Dunia bergerak menuju berita berikutnya.
Keluarga yang ditinggalkan tidak memiliki kemewahan yang sama. Mereka harus menjalani hari-hari berikutnya bersama ruang kosong yang tidak dapat diisi kembali.
Gencatan Senjata yang Belum Menjadi Rasa Aman
Gencatan senjata dinilai dari kemampuannya menghentikan kekerasan dan melindungi warga sipil, bukan semata-mata dari keberadaan dokumen atau pernyataan politik.
Serangkaian kematian terbaru ini memperlihatkan jurang antara harapan tersebut dan kenyataan yang dilaporkan dari Gaza. Rincian setiap serangan, termasuk keadaan di lapangan dan pihak yang bertanggung jawab, tetap perlu diperiksa melalui penyelidikan yang dapat dipercaya. Namun bagi keluarga korban, kehilangan itu bukan perkara abstrak yang menunggu kesimpulan diplomatik.
Mereka telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai.
Dua anak tidak akan tumbuh dewasa. Sepasang suami istri tidak akan kembali ke rumah mereka. Sebelas orang yang terluka harus menghadapi akibat serangan yang menimpa mereka.
Di atas kertas, gencatan senjata menandai jeda dalam perang. Dalam kehidupan sehari-hari, jeda itu baru berarti jika orang dapat tidur tanpa takut, anak-anak dapat bermain tanpa dibayangi tembakan, dan keluarga tidak perlu bertanya apakah rumah mereka masih berdiri ketika pagi tiba.
Sebab perdamaian bukan hanya keadaan ketika senjata ditembakkan lebih jarang.
Perdamaian adalah ketika seorang anak bisa tumbuh tanpa harus mengenal suara drone. Ketika rumah tidak lagi menjadi tempat yang membuat sebuah keluarga kehilangan seluruh masa depannya. Ketika orang-orang yang selamat tidak perlu terus-menerus bersiap kehilangan seseorang lagi.
Enam warga Palestina tewas pada Selasa. Di Gaza, gencatan senjata masih berlangsung dalam nama. Rasa aman, bagi banyak orang, belum juga tiba. [SHR]