75 Jenazah Pulang dari Reruntuhan

Mereka dimakamkan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, setelah rumah-rumah mereka dihancurkan. Pada Minggu, ratusan warga Palestina mengantar 75 jenazah—termasuk perempuan dan anak-anak—yang ditemukan dari reruntuhan bangunan di Kota Gaza.

Prosesi pemakaman dimulai di luar Klub Olahraga Daraj, sebelum jenazah dibawa ke Permakaman Sheikh Radwan. Sehari sebelumnya, jasad-jasad itu disemayamkan agar keluarga dapat memberikan penghormatan terakhir. Sebagian dibungkus bendera Palestina, seolah itulah kain terakhir yang bisa diberikan kepada mereka yang kehilangan rumah, kehidupan, dan kesempatan untuk berpamitan.

Abdullah al-Majdalawi, pejabat hubungan masyarakat dan media Pertahanan Sipil Gaza, mengatakan jenazah tersebut ditemukan dalam beberapa pekan terakhir dari rumah-rumah yang hancur di kawasan Daraj. Bangunan-bangunan itu dibom pada bulan-bulan awal perang, ketika penghuninya masih berada di dalam. Para korban berasal dari sekitar 20 keluarga, termasuk warga yang mengungsi ke rumah-rumah tersebut untuk mencari perlindungan.

Namun, mengangkat mereka dari timbunan beton bukan pekerjaan mudah. Keterbatasan alat berat dan peralatan membuat upaya pencarian berlangsung lambat, sementara ribuan keluarga masih menunggu kepastian tentang nasib orang-orang yang hilang.

Sejak 19 Juli, Pertahanan Sipil Gaza menjalankan tahap kedua operasi pencarian di 147 rumah yang hancur di Kota Gaza serta wilayah utara dan tengah. Diperkirakan 1.072 jenazah masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan-bangunan tersebut.

Pada tahap pertama, yang dimulai November 2025, tim berhasil menemukan 333 jenazah dan sisa jasad dari 54 bangunan. Sebanyak 226 orang lainnya belum berhasil dijangkau karena keterbatasan sumber daya.

Juru bicara Pertahanan Sipil Mahmoud Basal memperkirakan lebih dari 8.000 warga Palestina yang hilang masih tertimbun reruntuhan. Dengan kemampuan dan peralatan yang tersedia saat ini, proses evakuasi itu bahkan diperkirakan dapat memakan waktu hingga delapan tahun.

Padahal, berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, Israel seharusnya mengizinkan masuknya alat berat dan mesin ke Gaza. Otoritas serta faksi-faksi Palestina menuduh Israel tidak memenuhi komitmen tersebut.

Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 175.000 terluka. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza juga telah hancur.

Di Gaza, perang belum selesai bagi mereka yang masih menunggu kabar dari bawah beton. Sebagian keluarga telah menerima kepastian, meski datang dalam bentuk yang paling menyakitkan.

Kini 75 jenazah akhirnya dimakamkan. Namun, bagi ribuan keluarga lainnya, reruntuhan itu masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab: apakah orang-orang yang mereka cintai masih bisa ditemukan, dan kapan mereka akhirnya boleh pulang? [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *