Penggerebekan terjadi dari rumah ke rumah. Tiga puluh warga Palestina ditangkap, sebuah rumah dijadikan pusat interogasi, sementara sebuah keluarga di dekat Nablus dipukuli hingga harus dilarikan ke rumah sakit.
Pasukan Israel menangkap 30 warga Palestina dalam serangkaian operasi di Tepi Barat yang diduduki, Selasa, menurut laporan Anadolu. Penangkapan terkonsentrasi di wilayah Nablus, dengan 15 orang ditahan di desa Tell, 12 di Asira al-Shamaliya, dan satu orang di Talfit. Dua penangkapan lainnya dilaporkan terjadi di Tubas dan Hebron.
Kantor Media Tahanan Palestina menyebut pasukan Israel menggeledah sejumlah rumah dan mengubah salah satunya di Asira al-Shamaliya menjadi pusat interogasi.
Di Talfit, selatan Nablus, kekerasan juga menyasar keluarga Yusuf Munawwar Abu Aisha. Menurut sumber setempat, sejumlah orang yang mengenakan seragam militer dan disebut menyamar sebagai tentara Israel mendatangi rumahnya, lalu memukuli Abu Aisha beserta anggota keluarganya. Beberapa korban mengalami luka dan memar hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.
Di tempat lain, dua warga Palestina terluka setelah diserang ketika memanen zaitun di Beit Lid, dekat Tulkarem. Bulan Sabit Merah Palestina mengonfirmasi tim medisnya telah menangani kedua korban yang mengalami luka akibat pemukulan.
Rangkaian penangkapan dan serangan terhadap warga serta properti Palestina terus menjadi persoalan di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023, penggerebekan militer Israel dan kekerasan oleh para pemukim dilaporkan meningkat.
Bagi warga Palestina, kekerasan itu bukan semata ancaman terhadap keselamatan sehari-hari. Perluasan permukiman ilegal dan serangan yang terus berulang juga mempersempit ruang bagi cita-cita mendirikan negara merdeka.
Di Tepi Barat, pintu rumah yang diketuk tak selalu membawa kabar. Kadang, ia menjadi awal penangkapan, pemukulan, dan malam panjang di rumah sakit. [SHR]