Gencatan Senjata dan Gudang Obat yang Dirudal Israel

Gencatan senjata rupanya punya bunyi sendiri di Gaza. Bukan keheningan, melainkan ledakan.

Sabtu dini hari, ketika sebagian warga masih tidur di dalam tenda pengungsian, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi di sekitar Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, Deir al-Balah. Warga hanya punya beberapa menit untuk keluar. Sebagian berlari sambil menggendong anak. Sebagian meninggalkan alas tidur dan barang-barang mereka.

Lalu rudal datang.

Dua dari empat gudang medis di kompleks rumah sakit hancur. Dua lainnya rusak berat. Obat-obatan, cairan infus, serta perlengkapan untuk layanan dialisis dan perawatan intensif ikut tertimbun reruntuhan. Puluhan tenda pengungsi terbakar.

Tak ada laporan segera mengenai korban tewas atau luka-luka.

Namun di Gaza, tidak mati malam itu bukan berarti selamat.

Obat yang Tak Bisa Diganti

Khalil al-Daqran, juru bicara Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa, mengatakan serangan itu menghancurkan seluruh persediaan medis yang tersimpan di gudang.

“Sejumlah besar cairan infus, obat-obatan, dan perlengkapan untuk unit vital” musnah, kata dia kepada Anadolu.

Ledakan meninggalkan kawah lebih dari 20 meter dan merusak dinding rumah sakit serta bangunan di sekitarnya. Gudang tersebut sebenarnya bukan bangunan permanen. Ia dibuat dari lembaran logam karena bahan konstruksi sulit masuk ke Gaza akibat blokade dan pembatasan barang.

Maka ada ironi yang hampir sempurna: fasilitas kesehatan terpaksa dibangun seadanya karena bahan bangunan langka, lalu persediaan medis yang juga langka dihancurkan oleh perang.

Kementerian Kesehatan Gaza menyebut serangan itu sebagai bagian dari penghancuran sistem kesehatan. Kementerian mengatakan pembatasan masuknya obat dan peralatan medis telah membuat rumah sakit bekerja dengan persediaan yang semakin tipis.

Al-Daqran memperkirakan sekitar separuh kapasitas operasional layanan kesehatan Gaza telah lumpuh akibat kerusakan fasilitas dan kekurangan pasokan.

Rumah sakit, dengan demikian, menghadapi persoalan sederhana sekaligus mengerikan: bagaimana menyelamatkan pasien ketika obat untuk menyelamatkan mereka ikut menjadi sasaran?

Tiga Belas Kali Mengungsi

Di luar rumah sakit, persoalannya lebih sederhana lagi. Mereka kehilangan rumah yang bahkan bukan rumah.

Umm Mohammed Wadi tinggal di kamp pengungsian di samping rumah sakit sejak perang dimulai. Ketika peringatan evakuasi terdengar, ia membangunkan warga lain.

Mereka berlari membawa anak-anak.

Beberapa menit kemudian, tenda-tenda itu hancur.

Wadi mengatakan ini sudah kali ke-13 ia dan anak-anaknya menyelamatkan diri sejak perang dimulai. Setiap kali serangan datang, mereka kehilangan tempat tinggal dan harus memulai lagi.

Sekitar 50 hingga 60 tenda dilaporkan hancur. Abu Ayman mengatakan kamp tersebut dihuni sekitar 1.000 orang.

Abdulsalam Hamdan dan keluarganya sempat berlindung di rumah sakit. Ketika kembali, alas tidur dan barang-barang mereka sudah terkubur.

Mereka tidak sedang mencari rumah baru. Mereka hanya mencari tempat yang tidak dibom.

“Ke mana kami harus pergi?” ujar Wadi.

Pertanyaan itu barangkali lebih konkret daripada seluruh konferensi pers tentang masa depan Gaza.

Bahasa Diplomasi

Serangan terjadi ketika para pemimpin dunia kembali berbicara tentang perdamaian.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat mengumumkan tercapainya kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lain di Gaza. Pasukan Israel disebut akan menarik diri secara bertahap dalam proses tersebut.

Di lapangan, rudal rupanya belum membaca teks kesepakatan.

Menurut data yang dikutip Anadolu, sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober, serangan Israel masih menewaskan lebih dari 1.200 warga Palestina dan melukai hampir 4.000 lainnya.

Sejak perang pecah pada Oktober 2023, lebih dari 73.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 174.000 terluka. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Sekitar 90 persen infrastruktur Gaza disebut rusak atau hancur.

Angka-angka itu begitu besar sehingga mudah kehilangan maknanya.

Maka sebuah gudang obat memberi kita ukuran yang lebih manusiawi.

Di sana ada cairan infus yang seharusnya masuk ke pembuluh darah pasien. Ada obat untuk orang yang menjalani dialisis. Ada peralatan untuk ruang intensif. Ada persediaan yang mungkin menentukan apakah seseorang bertahan sampai pagi.

Kini semuanya menjadi puing.

Rumah Sakit yang Tak Lagi Cukup Aman

Israel menyatakan operasi militernya ditujukan kepada Hamas dan kelompok bersenjata, bukan penduduk sipil. Dalam perang, alasan itu selalu membutuhkan pembuktian di lapangan.

Di Deir al-Balah, yang terlihat adalah rumah sakit yang rusak, gudang medis yang hancur, dan tenda pengungsi yang terbakar.

Kementerian Kesehatan Gaza menuduh serangan tersebut sebagai bagian dari kebijakan penghancuran sistem kesehatan. Mereka menyerukan intervensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi kemanusiaan, dan kelompok hak asasi manusia.

Hukum humaniter internasional memberikan perlindungan khusus kepada fasilitas medis dan tenaga kesehatan dalam konflik bersenjata. Tuduhan pelanggaran terhadap perlindungan itu karena itu bukan perkara retorika belaka. Ia menuntut penyelidikan dan pertanggungjawaban.

Sementara itu, pasien tetap membutuhkan obat.

Dokter tetap membutuhkan peralatan.

Pengungsi tetap membutuhkan tenda.

Dan anak-anak tetap membutuhkan tempat untuk tidur.

Di Gaza, diplomasi boleh menyebut keadaan itu “gencatan senjata”. Peta boleh menandainya sebagai wilayah konflik. Para pejabat boleh menyebutnya operasi militer.

Tetapi bagi seorang pasien yang menunggu obat, sebuah gudang medis yang dibom hanya punya satu nama:kehilangan kesempatan untuk hidup. [SHR]

Berbagi artikel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *