‘Operasi Nakba’ Tewaskan dan Lukai Warga Israel

Aksi heroik penyerang tak dikenal menewaskan sedikitnya tiga warga Israel dan melukai lima lainnya pada peringatan Hari Nakba (Bencana), yang menandai klaim keberadaan rezim Israel pada 1948.

Operasi itu, yang sejauh ini belum ada orang atau kelompok yang mengaku bertanggung jawab, terjadi di kota Elad di bagian tengah wilayah pendudukan pada Kamis.

Di antara yang terluka, tiga berada dalam “kondisi serius”, sementara dua lainnya menderita luka sedang atau ringan, layanan tanggap darurat rezim pendudukan Magen David Adom (MDA) dikutip oleh AFP.

Seorang staf MDA menggambarkan situasi, yang dihadapi oleh layanan, sebagai “adegan yang kompleks”.

Staf itu mengatakan semua yang tewas adalah pria berusia awal 40-an, dan menggambarkan mereka yang terluka parah sebagai pria berusia antara 35 dan 60 tahun.

Polisi rezim telah memulai perburuan, mengerahkan helikopter dan memasang penghalang jalan di seluruh wilayah pendudukan.

Sementara itu Menteri Keamanan Publik Israel, Omer Bar-Lev mengatakan rezim menderita “harga yang sangat berat” setelah tiga orang tewas dan beberapa lainnya terluka dalam serangan pada kesempatan Nakba.

Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett juga berjanji untuk menangkap mereka yang bertanggung jawab atas operasi tersebut, menggambarkan mereka sebagai “penyabotase”. Dia mengatakan mereka akan “membayar harga” untuk tindakan mereka.

Demikian pula, Menteri Perang Israel Benny Gantz mengatakan “harga yang mahal” menunggu para penyerang dan dalang operasi tersebut.

Pejabat keamanan Israel memperpanjang penutupan di Tepi Barat dan Gaza hingga Minggu depan, Gantz menambahkan.

Polisi mengatakan tampaknya serangan itu terjadi di beberapa tempat di satu daerah.

Operasi Perlawanan Palestina Tewaskan Warga Tel Aviv

Sekadar informasi, 15 Mei 1948 menandai hari, ketika rezim Israel memproklamasikan eksistensinya setelah perang yang didukung Barat dan mengusir lebih dari 700.000 orang dari rumah mereka di wilayah Palestina.

Juru Bicara Hamas, Hazem Qassem mengatakan operasi Elad sebagian mencerminkan kemarahan bangsa Palestina atas penodaan berulang Israel terhadap tempat-tempat suci mereka.

Gerakan Perlawanan Jihad Islam juga memuji operasi tersebut, menyebutnya sebagai kemenangan bagi penduduk kota Quds yang diduduki Israel.

Kelompok Palestina menyebut penodaan Masjid Al-Aqsa oleh pasukan Israel dan pemukim Yahudi ekstremis sebagai deklarasi perang terhadap seluruh bangsa Palestina, yang menyatakan bahwa Palestina akan terus menghadapi penjajah dan agresi mereka.

Osama Harb, seorang pemimpin Jihad Islam, mengatakan operasi Elad merupakan indikasi kuat dari pemberontakan Palestina untuk membalas kejahatan Israel yang sedang berlangsung terhadap tempat-tempat suci.

“Rakyat Palestina bertekad untuk memulihkan kebebasan dan semua hak mereka. Mereka akan melanjutkan perjuangan mereka sampai semua pengungsi Palestina kembali ke Tanah Air mereka,” katanya.

Pejabat Jihad Islam menekankan bahwa Palestina tidak bisa tinggal diam dan acuh tak acuh dalam menghadapi kejahatan rezim Israel dan pelanggarannya terhadap semua garis merah yang telah mereka deklarasikan. [SHR]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.