Israel Serang Al-Aqsa dengan Drone Gas Air Mata

Pasukan Israel menggunakan drone yang dikendalikan dari jarak jauh untuk menjatuhkan puluhan tabung gas air mata ke kerumunan jemaah, termasuk wanita dan anak-anak Palestina di Masjid Al-Aqsa hari ini.

Rekaman video yang diambil di tempat kejadian menunjukkan sejumlah jemaah dibawa dengan tandu oleh petugas medis.

Serangan gas air mata dengan menggunakan drone adalah sebuah praktik yang sebelumnya biasanya dilakukan Israel di Tepi Barat, tetapi kini juga telah digunakan untuk menyerang warga Palestina di Masjid Al-Aqsa.

Dikabarkan lebih dari 10 orang di antara jemaah Palestina saat ini terluka setelah pesawat tak berawak polisi Israel melemparkan granat gas air mata tersebut di Masjid Al-Aqsa, dan sedikitnya 57 orang mengalami sesak napas.

Bulan Sabit Merah mengabarkan bahwa 14 orang dari mereka, termasuk 9 anak, telah dilarikan ke rumah sakit.

Anak-anak dan para ibu menjadi sasaran drone yang menjatuhkan gas air mata saat ini. Pertanyaannya, bagaimana mereka menjadi ancaman keamanan? Bagaimana ini bisa diterima? Berapa lama itu akan berlanjut?

Jika tindakan biadab rezim apartheid Israel ini terus dibiarkan tanpa kecaman dan tak segera dihentikan, maka lain kali, bukan tidak mungkin serangan serupa bukan lagi menggunakan gas air mata, tapi senjata mematikan lain yang akan menghilangkan nyawa atau membawa kerusakan atau cacat permanen bagi warga Palestina.

Begitulah selama delapan hari terakhir, Israel telah menyerbu tempat suci ini sebanyak tujuh kali, melukai puluhan jemaah dan menangkap ratusan warga Palestina dalam prosesnya.

Al-Aqsa adalah situs tersuci ketiga dalam Islam, dan pilar identitas Palestina tidak hanya di Yerusalem, tetapi di seluruh Palestina. Sementara orang-orang Palestina sering mengunjungi situs itu sepanjang tahun, dan pada saat Ramadan makin terlihat masuknya ratusan pengunjung dari bagian lain wilayah Palestina yang diduduki.

Serangan dan aksi kekerasan Israel baru-baru ini di kompleks tersebut, khususnya di dalam aula kuno Masjid, dipandang sebagai upaya provokatif oleh rezim apartheid ini untuk membatasi akses warga Palestina ke tempat-tempat suci mereka, sambil secara bersamaan mempromosikan dan memaksakan kehadiran kelompok ekstremis Yahudi di sana.

Di lain pihak, Jubir Kantor HAM PBB, Ravina Shamdasani dalam sebuah konferensi pers di Jenewa mengumumkan, tindakan biadab aparat keamanan Israel terhadap warga Palestina di dekat Masjid Aqsa sejak 15 hingga 17 April saja telah melukai 180 orang, termasuk 27 anak.

Menurut Shamdasani, Polisi Israel dalam rentang waktu tersebut telah menangkap sekitar 470 orang, di antaranya adalah 60 anak.

PBB mengutarakan kekhawatiran mendalam atas meningkatnya kekerasan di Tanah Pendudukan dalam satu bulan terakhir.

“Harus ada penyelidikan segera, netral, independen, dan transparan atas kekerasan yang dilakukan Polisi Israel hingga melukai para jemaah salat di Masjid Aqsa. Otoritas terkait harus bertanggung jawab atas hal ini,” kata Shamdasani. [SHR]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.