Israel Halangi Peziarah Kristen Masuki Makam Suci

Polisi Israel telah membatasi jumlah peziarah Kristen yang diizinkan mengunjungi Gereja Makam Suci untuk upacara Api Paskah akhir pekan depan, tetapi keputusan awal untuk membatasi masuknya jemaah ke Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki dibatalkan dalam putusan pengadilan.

Tokoh Palestina dan Yordania telah mengkritik keputusan polisi, yang telah membuat khawatir komunitas Kristen Palestina karena ketegangan di Yerusalem terus meningkat karena serangan harian di Masjid al-Aqsa oleh pasukan dan pemukim Israel sejak awal April.

Pengacara Palestina Elias Khoury mengatakan kepada Middle East Eye bahwa beberapa lembaga yang mewakili komunitas Kristen menentang keputusan Mahkamah Agung Israel pada hari Rabu.

Polisi Israel awalnya memutuskan untuk mengizinkan hanya 1.500 orang memasuki Kota Tua melalui pos pemeriksaan untuk pergi ke Gereja Makam Suci dan berpartisipasi dalam upacara Api Paskah pada hari Sabtu.

Dikatakan, mereka akan melarang lebih banyak peziarah memasuki Kota Tua dengan dalih keselamatan dan akan menutup pos pemeriksaan yang didirikan di gerbangnya.

Namun, Khoury dan rekannya mengajukan petisi yang menentang langkah tersebut.

“Kami berhasil meyakinkan pengadilan untuk mengizinkan 4.000 orang pada hari Sabtu. Tetapi yang paling penting, kami sepakat bahwa Kota Tua Yerusalem dan kawasan Kristen akan tetap buka, bahkan setelah jumlah peziarah mencapai kapasitas, dan peziarah masih dapat mengunjungi kota ini,” kata Khoury kepada MEE.

Dengan demikian, polisi Israel akan membatasi jumlah peziarah yang memasuki Gereja kuno Makam Suci menjadi 1.800 orang dan yang diizinkan di halaman menjadi 300. Di atap dan di sekitar gereja masing-masing sekitar 1.000 dan 900 orang akan diizinkan.

Khoury menjelaskan bahwa polisi Israel mulai menerapkan kebijakan pembatasan jumlah umat Kristen yang menghadiri acara-acara suci di dalam Kota Tua Yerusalem pada tahun 2013 dengan dalih melindungi orang dalam keadaan darurat.

“Kepala gereja di Yerusalem, yang bukan orang Palestina atau Arab, tidak keberatan saat itu. Jadi bagi mereka, mereka tidak terlalu peduli apakah masyarakat setempat merayakan atau tidak,” kata Khoury.

“Sayangnya, di Yerusalem, tidak ada kepemimpinan lokal dan nasional untuk menghadapi pendudukan Israel dan menangani kebijakannya. Orang-orang Kristen Palestina di Yerusalem hampir menghilang, dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang tua.”

Bukan kali ini saja, umat ​​Kristen Palestina juga mengkritik Israel karena menghalangi musim Natal mereka pada Desember lalu, dan terus mendiskriminasi mereka di Yerusalem Timur, Tepi Barat, dan wilayah pendudukan Israel. Mereka mengatakan, “Umat Kristen telah menjadi sasaran serangan yang sering dan berkelanjutan oleh kelompok-kelompok radikal pinggiran,” mengacu pada aktivis sayap kanan Israel, yang baru-baru ini aktif menyerbu kompleks Al-Aqsa. [SHR]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.