Diancam, Eks Presiden Yaman Mundur atas Perintah MBS

Abdu Rabbuh Mansur Hadi mengumumkan mundur dari kursi Presiden Yaman yang ia klaim sebagai miliknya. Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Muhammad bin Salman, dilaporkan yang memaksa Hadi melepas jabatannya setelah 7 tahun Riyadh gagal menduduki Sanaa.

Pada 7 April, Hadi menyatakan telah menyerahkan kekuasaan kepada “dewan kepresidenan” sekaligus memecat Wakil Presiden Ali Mohsen al-Ahmar. Menurut The Wall Street Journal, 17 April, Bin Salman yang membuat surat perintah penyerahan kekuasaan tersebut.

Mengutip sumber anonim dari pejabat Saudi dan Yaman, WSJ melaporkan, Hadi akhirnya mau mematuhi surat tersebut setelah mendapatkan tekanan dari sejumlah pejabat Saudi. Ia diancam skandal korupsinya dibongkar.

Setelah mengundurkan diri, Saudi membatasi ruang gerak Hadi tak keluar dari rumahnya, di Riyadh. Kerajaan juga menutup akses teleponnya.

Pengumuman Hadi disampaikan tak lama setelah PBB menginisiasi gencatan senjata antara Yaman dan Saudi selama dua bulan. Gencatan senjata yang kemudian dinilai tidak serius oleh Ansarullah karena Saudi masih melakukan blokade dan serangan udara terhadap Yaman.

Kepada publik, Saudi menyatakan menyambut pengunduran Hadi. Riyadh lalu mendorong Dewan memulai perundingan dengan Ansarullah. Bin Salman juga menjanjikan bantuan senilai 3 miliar dolar untuk membangun kembali ekonomi Yaman.

Mansur Hadi

Hadi resmi menjadi Presiden Yaman pada tahun 2012. Tapi di awal 2015, ia menyatakan mundur dan melarikan diri ke Riyadh ketika demonstrasi rakyat yang dipimpin oleh Ansarullah meletus di Yaman.

Setibanya di Saudi, Hadi membatalkan penguduran dirinya dan mengklaim dirinya masih menjabat presiden. Riyadh kemudian membentuk koalisi militer yang didukung penuh oleh Amerika Serikat. Pada Maret 2015, koalisi ini meluncurkan perang melawan Yaman, negara termiskin di Asia Barat.

Mereka menyerang tetangganya di bagian selatan tersebut demi mengembalikan penguasa boneka Hadi ke Sanaa. Koalisi juga berambisi menghancurkan Ansarullah.

Akibat invasi 7 tahun, sekitar 80 persen dari 30 juta populasi Yaman kini membutuhkan bantuan kemanusiaan. Ratusan ribu nyawa melayang. Berbagai infrastruktur dalam negeri hancur, termasuk rumah sakit.

Walau telah memorakporandakan negara lain, Saudi belum juga mencapai tujuannya. Hingga tahun ketujuh agresi. Dengan perkembangan poros peralawan di Yaman, menurut sejumlah analis, Bin Salman tak lagi mungkin dapat mewujudkan hasratnya.[]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.