Selama Riyadh Tak Cabut Blokade, Gencatan Senjata Omong Kosong

 

Ansarullah mengatakan, selama Arab Saudi belum mencabut blokade atas Yaman, gencatan senjata tiada artinya. Hal ini disampaikan Ansarullah pada 30 Maret 2022 menyusul deklarasi gencatan senjata yang diumumkan Saudi.

“Karena blokade terhadap Yaman merupakan bagian dari operasi militer,”  kata pejabat senior Biro Politik Ansarullah Mohammad al-Bukhaiti melalui laman Twitter.

Bukhaiti menjelaskan, rakyat Yaman tetap menderita selama agresor memblokade Yaman. Bahkan, blokade lebih banyak membuat rakyat menderita dibandingkan perang.

“Oleh karena itu, operasi militer Yaman akan berlanjut sampai blokade dicabut,” tegasnya.
 
Sebelumnya, Yaman memberikan serangan balasan dengan menghantam aset industri minyak nasional Saudi, Aramco, 25 Maret 2022.

Keesokan harinya, Yaman mengumumkan gencatan senjata selama tiga hari. Dalam pengumuman itu, Yaman menyebut, “Jika Saudi menginginkan, gencatan senjata dapat diperpanjang tanpa batas waktu.”

Pada 28 Maret, Ansarullah mengingatkan Riyadh dengan nasihat, “Jangan melewatkan kesempatan ini.” Namun jika Saudi ingin melanjutkan agresinya, kata Ansarullah, Yaman akan membalasnya tanpa belas kasih.

Kerjaan Saudi akhirnya mengumumkan menghentikan operasi militer menyerang Yaman pada 29 Maret. Pemerintahan Raja Salman beralasan ingin menghormati bulan Ramadan.

Bulan lalu, Kementerian Kesehatan Yaman melaporkan lebih dari 3.000 pasien kanker membutuhkan pengobatan ke luar negeri. Namun penutupan Bandara Internasional Sanaa dan larangan impor obat-obatan menjadikan nyawa pasien-pasien ini di ujung tanduk.

Sekretaris Kementerian Sektor Terapi, Ali Jahaf, mengatakan, 8 Februari, badan kesehaan dunia WHO tak bisa menyuplai obat-obatan kanker ke Yaman lantaran blokade yang diterapkan koalisi militer Arab Saudi. Riyadh menutup akses keluar-masuk negara tetangganya itu termasuk melalui bandar udara Sanaa.

Menurut Pusat Onkologi Nasional, lebih 50 persen kekurangan obat dari yang dibutuhkan untuk pasien kanker. Khususnya obat-obatan kimia. Kepala Pusat Onkologi, Abdullah Thawabeh, menyebut setidaknya 300 kasus pasien kanker dari berbagai provinsi yang meninggal dunia setiap tahunnya.[]

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.