Malangnya Nasib Pasien Leukemia di Yaman


Kepala Pusat Leukemia Anak Yaman, Abdul Rahman Al-Hadi, mengatakan lembaganya kekurangan obat dan tidak bisa lagi sepenuhnya melakukan transpalantasi sumsung tulang.

“Kami mengurus anak-anak penderita leukemia di tengah situasi darurat akibat keterbatasan akut obat-obat kimia, obatan-obatan yang mendukung dan berkualitas tinggi,” kata dokter Hadi kepada Al-Masirah TV, 28 Januari 2022. 

Menurutnya, keterbatasan obat untuk pasien leukemia terjadi karena sejumlah perusahaan farmasi enggan mengimpornya ke Yaman. Lagi pula, koalisi Arab Saudi-Amerika Serikat mencegah masuknya obat-obatan tersebut ke Yaman. 

Hadi mengatakan, lebih dari 30 persen anak yang terdiagnosa leukemia itu membutuhkan pengobatan ke luar negeri. Namun karena penutupan Bandara Internasional Sanaa akibat blokade Saudi membuat peluang mereka melanjutkan hidup menipis. 

“Jumlah anak pengidap leukemia di Pusat Pengobatan Leukimia, Sanaa, mencapai 1.300 jiwa. Jumlahnya melonjak selama lima tahun terakhir,” katanya. Ia menjelaskan, lembaganya menerima pasien leukemia anak-anak dari seluruh penjuru Yaman dengan rata-rata dua sampai tiga kasus baru per pekan. 

Setahun lalu, jumlah kasus dari kalangan anak-anak meningkat dari 300 menjadi 700 kasus. Meroketnya jumlah ini akibat koalisi militer Saudi menggunakan senjata-senjata yang terlarang dalam hukum internasional, termasuk saat agresor melakukan serangan udara ke Attan dan Naqum, keduanya daerah di provinsi Sanaa.

Sejak Pusat Pengobatan Leukemia didirikan pada 2014, pihaknya telah menerima sekitar seribu kasus. Dari total itu, 30 persen di antaranya meninggal dunia karena keterlambatan pengobatan akibat blokade koalisi Saudi.

Pusat Pengobatan Leukemia di Sanaa menderita kelebihan kapasitas karena hanya lembaga inilah yang menangani khusus leukemia di Yaman. Jumlah pasien yang datang dari seluruh provinsi bertambah dan melebihi daya tampung Pusat Pengobatan Leukemia.[] 

 

Berbagi artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published.